Menyusur Jejak Kemegahan Kerajaan Malayu

Kompas.com - 07/04/2008, 14:14 WIB
Editor

Agnes Rita Sulistyawaty

Nama Dharmasraya boleh jadi tidak sepopuler Kota Padang, pun tidak setenar Bukittinggi dengan Jam Gadangnya. Namun, di kabupaten yang terletak di Sumatera Barat itulah tersimpan situs sejarah ibu kota Kerajaan Malayu abad ke-13.

Candi-candi peninggalan Kerajaan Malayu yang bersemayam ratusan tahun di Kabupaten Dharmasraya itu baru bisa dinikmati setelah memahami kisah dari ahli sejarah atau pewaris kerajaan. Bangunan candi di Dharmasraya, yang hampir seluruhnya tidak utuh, merupakan salah satu simbol kejayaan Kerajaan Malayu sekitar abad ke-13.

Kejayaan Kerajaan Malayu mulai menyeruak di Swarnnabhumi, sebutan lain untuk Sumatera, setelah kekuatan Kerajaan Sriwijaya di Palembang terdesak akibat serangan Kerajaan Koromandel di India, yang ketika itu diperintah Rajendra Chola sekitar abad ke-11. Waktu itu, pusat Kerajaan Malayu masih di Jambi.

Dalam buku kajian sejarah berjudul Menguak Tabir Dharmasraya yang diterbitkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar disebutkan bahwa Kerajaan Malayu juga sering mengirimkan utusan ke China. Pengiriman utusan, yang ketika itu belum mengenal istilah studi banding, diperkirakan berkaitan dengan kebutuhan untuk melanggengkan kerja sama perdagangan dari dua kerajaan pada masa itu.

Kerajaan Malayu juga sempat ditulis dalam catatan biksu Tiongkok, I-tsing. Namun, kata Malayu dituliskan sebagai mo-lo-yeu. Kerajaan Malayu di Dharmasraya juga diakui sampai ke Bhumi Jawa, sebutan untuk Pulau Jawa ketika itu. Salah satunya, kata Dharmasraya pernah disebut-sebut dalam naskah Nagarakrtagama yang dibuat oleh Empu Prapanca pada masa pemerintahan Hayam Wuruk sekitar tahun 1365.

Dalam Pupuh XIII naskah Nagarakrtagama, Dharmasraya disebut sebagai salah satu negara bawahan Majapahit bersama dengan Jambi, Palembang, Karitang, Teba, dan sejumlah daerah lain.

Filolog asal Jerman, Uli Kozok, mengutip pendapat sejarawan JG de Casparis yang mempunyai interpretasi lain atas naskah Negarakrtagama yang seakan menyatukan 24 negara di Nusantara di bawah panji Majapahit. ”Mungkin saja Majapahit menganggap Malayu sebagai wilayah taklukan, tetapi raja Malayu jelas menganggap dirinya sebagai raja yang memiliki kedaulatan yang sempurna yang tidak takluk kepada siapa pun,” kata Casparis, seperti dikutip Kozok.

Terlepas dari perdebatan arti penting Dharmasraya, kejayaan Kerajaan Malayu Dharmasraya menyisakan sejumlah peninggalan bersejarah. Ketenaran Kerajaan Malayu sewaktu bertakhta di Dharmasraya masih bisa dilihat dengan adanya sejumlah candi di tepi aliran Sungai Batanghari. Candi itu antara lain Candi Padangroco, Pulau Sawah, serta Candi Rambahan.

Bentuk dan bahan pembuat candi di Dharmasraya ini mempunyai kemiripan dengan Candi Muara Jambi di Provinsi Jambi serta Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Diduga, sekitar daerah itu juga masih tunduk di bawah Kerajaan Malayu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.