Rabu, 16 April 2014

News / Regional

Reaksi Kimia Air Hujan dan Batuan, Penyebab Runtuhnya Terowongan Freeport?

Rabu, 22 Mei 2013 | 07:08 WIB

Baca juga

TIMIKA, KOMPAS.com — Tim ahli geologi PT Freeport Indonesia (PTFI) menampik kegiatan penambangan aktif dengan serangkaian peledakan (blusting) dan pengeboran (drilling) batuan menjadi penyebab runtuhnya atap terowongan Big Gossan. Runtuhnya atap terowongan, Selasa (14/5/2013), mengakibatkan 28 orang tewas dan 10 orang lain terluka. Air hujan yang bereaksi dengan batuan gamping dan termineralisasi disebut sebagai dugaan awal penyebab runtuhnya terowongan ini.

Vice President (VP) Geo Services PTFI Wahyu Sunyoto mengatakan, lokasi reruntuhan berada di luar pengaruh kegiatan operasional pertambangan aktif. Jarak dari pusat penambangan Big Gossan sekitar 500 meter, sementara untuk tambang Deep Ore Zone (DOZ) berjarak sekitar 1.700 meter, dan untuk tambang terbuka Grasberg (Grasberg open pit) berjarak sekitar 2.700 meter. "Jadi cukup jauh dari daerah kegiatan aktif penambangan kita," jelasnya.

Selain itu, imbuh Wahyu, data microseismic system tidak menunjukkan gejala awal terjadinya runtuhan itu. Microseismic system adalah sistem yang memantau getaran, terpasang di setiap lokasi tambang. "Bahkan getaran gempa 7,2 skala Richter yang berpusat di timur laut Kabupaten Tolikara beberapa waktu lalu tidak berpengaruh terhadap fasilitas tambang bawah tanah kami," urai Wahyu.

Analisis sementara

Analisis sementara dari para ahli geologi PTFI, penyebab runtuhnya atap terowongan Big Gossan adalah akibat menurunnya daya dukung atau kohesivitas batuan. Penurunan kohesivitas diduga disebabkan oleh pelapukan kimiawi akibat air hujan dan udara yang meresap melalui struktur rekahan alami.

Wahyu mengatakan, air hujan pada dasarnya bersifat mendekati asam, dengan indikator pH sekitar 5. Dengan tingkat keasaman tersebut, menurut dia, air hujan akan mudah bereaksi dengan batuan gamping yang banyak terdapat di Papua, termasuk di lokasi tambang. Air hujan juga gampang bereaksi dengan zona termineralisasi seperti sulfida tembaga. Kedua hal itu memungkinkan terjadinya reaksi kimia yang berujung pelapukan batuan.

 "Pelapukan kimiawi secara alami pada rekahan batuan di atas atap terowongan akibat rembesan air hujan dan udara yang terus-menerus mengakibatkan kekuatan batuan menjadi sangat lemah. Kenapa bisa jatuh dalam hitungan detik atau menit, karena ada rekahan yang berbentuk biji yang bentuknya melebar di bawah, dan karena daya dukung rekahan sudah sangat rendah sehingga batuan runtuh, memenuhi dan menutup seisi ruangan kelas," jelas Wahyu di Guest House, Senin (20/5/2013).

Meski sudah ada analisis awal dari para geolog PTFI, tetapi Presiden Direktur PTFI Rozik B Soetjipto mengatakan tetap akan melakukan investigasi internal yang menyeluruh serta memberikan kesempatan kepada investigator dari Kementerian ESDM. Rozik juga berencana mendatangkan investigator independen untuk memastikan penyebab insiden runtuhnya atap terowongan Big Gossan yang menelan puluhan korban jiwa.


Penulis: Kontributor Kompas TV, Alfian Kartono
Editor : Palupi Annisa Auliani