Sabtu, 20 Desember 2014

News / Regional

Longsor Majalengka Kubur 6 Hektar Sawah

Jumat, 3 Mei 2013 | 09:45 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengatakan, musibah di Kampung Cigintung, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, beberapa waktu lalu telah menimbun enam hektar sawah siap panen.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, dalam siaran persnya, Kamis, menjelaskan, musibah longsor tersebut terjadi pada tanggal 15 April 2013 juga telah mengakibatkan 11 rumah rusak berat, 99 rumah rusak ringan hingga sedang, mengalami keretakan di bagian lantai dan dinding bangunan.

"Selain itu, jalur jalan sepanjang 50 meter ambles sedalam tiga hingga lima meter dan 609 kepala keluarga (KK) atau 1.842 jiwa mengungsi ke berbagai tempat," katanya.

Dia mengatakan, longsoran di lokasi ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama sehingga menyebabkan lereng di bagian atas yang terjal dengan vegetasinya jarang menjadi tidak stabil dan longsor menimpa wilayah pesawahan.

"Akibat getaran longsor ini, tanah di sekitar Kampung Cigintung yang berupa batu lempung mengalami pergerakan yang lambat sehingga terbentuk nendatan dan retakan pada tanah yang memotong wilayah permukiman dan jalur jalan," katanya.

Pergerakan tanah yang lambat ini, kata Surono, masih akan berlangsung selama musim hujan ini sebelum retakan dan nendatan ini tertutup kembali dan terisi oleh air hujan.

"Selain itu, ancaman dari material longsoran jika diguyur hujan terus-menerus dapat menyebabkan material longsor akan tererosi dan masuk ke aliran Sungai Cijurai yang memotong bagian tengah Kampung Cigintung yang dapat menimbulkan aliran bahan rombakan," kata dia.

Oleh karena itu, lanjut dia, untuk mitigasi bencana gerakan tanah di lokasi ini direkomendasikan karena lahan di sekitar Kampung Cigintung sudah tidak layak huni sebab sebagian besar sudah mengalami retakan dan nendatan yang pergerakannya masih berlangsung hingga sekarang walaupun pergerakannya lambat.

"Maka, perlu direlokasi ke tempat yang aman," ujarnya.


Editor : Kistyarini
Sumber: