Jumat, 31 Oktober 2014

News / Regional

Marak, PSK di Kota Wisata Batu

Rabu, 17 April 2013 | 13:23 WIB

BATU, KOMPAS.com — Maraknya jumlah kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, di Kota Wisata Batu, Jawa Timur, ternyata berdampak pada menjamurnya pekerja seks komersial (PSK) di wilayah itu. Kondisi tersebut dikhawatirkan bakal mengancam kota yang dikenal dengan sebutan "Kota Apel" tersebut.

Para PSK liar tersebut umumnya beroperasi secara terselubung di beberapa obyek wisata yang ada. Banyak di antara PSK itu yang mangkal di depan bangunan vila yang disewakan. Menjamurnya PSK itu diungkapkan Slamet dari Lembaga Swadaya Masyarakat Paramitra Kota Batu yang selama ini aktif melakukan pendampingan kasus prostitusi.

"Saat ini sudah menjamur PSK liar di Kota Wisata Batu," kata Slamet, Rabu (17/4/2013).

PSK yang terdata di Paramitra lebih kurang ada 115 orang. "Sebagian besar adalah mantan penghuni di dua lokalisasi yang ada di Kota Batu, yakni Gangsiran dan Banjartengah, yang sudah lama ditutup oleh pemerintah setempat," kata Slamet. Akibat penutupan dua lokalisasi itu, kata Slamet, para PSK terpaksa harus beroperasi secara diam-diam di sejumlah titik. "Biasanya beroperasi di kawasan vila yang selama ini banyak menjadi tujuan para wisatawan lokal dan asing," tutur Slamet.

Dalam beroperasi, para PSK itu banyak yang memanfaatkan jasa para tukang ojek. "Rata-rata usia para PSK di atas 30 tahun. Hasil temuan Paramitra ini sudah disampaikan ke pihak dinas terkait di Pemkot Batu," kata Slamet lagi.

Melihat menjamur dan semakin liarnya para PSK di Batu, Slamet berharap ada tindakan kongkret dari pemerintah setempat. "Semoga segera ada follow up lebih lanjut agar wisata di Batu terbebas dari praktik prostitusi liar," ujar Slamet.

Sementara itu, Kabag Humas Polres Batu Yantofan mengungkapkan, langkah kongkret dan tegas yang sudah dilakukan Pemkot Batu adalah dengan meminta pihak kepolisian setempat untuk melakukan razia PSK. "Hasilnya, petugas berhasil mengamankan sebanyak 82 orang yang kedapatan melakukan penyakit masyarakat," kata Slamet lagi.

Dari 82 orang yang terjaring polisi, sebanyak 30 orang adalah PSK. Sedangkan sisanya, yakni 18 orang, adalah pelanggaran minuman keras (miras). "Untuk premanisme sebanyak 17 orang dan pelaku judi ada 4 orang," kata Yantofan.

Yantofan mengatakan, penjaringan kasus prostitusi paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Pujon, Ngantang, dan Kasembon. "Para PSK tertangkap saat berada di kafe dan saat mangkal di beberapa tempat remang-remang di Kota Batu," kata Yantofan.


Penulis: Kontributor Malang, Yatimul Ainun
Editor : Glori K. Wadrianto