Minggu, 23 November 2014

News / Regional

Kronologi Pembunuhan Mahasiswi oleh Oknum TNI

Rabu, 3 April 2013 | 18:37 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Anggota TNI dari kesatuan Yonif 303/13/1 Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad), Prada Mart Azzanul Ikhwan (23), menjalani sidang perdana kasus pembunuhan pacarnya, Shinta Mustika (19) dan ibunda Shinta, Onah (39), di Pengadilan Militer II-09 Bandung, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/4/2013).

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Letkol CHK Sugeng Sutrisno itu terungkap pembunuhan diketahui oleh saksi Amat (25), tukang ojek yang kebetulan melintas di lokasi pembunuhan di Kampung Panagan Karikil, Desa Sukawargi, Kecamatan Cisurupan, Garut, pada Senin (11/2/2013) lalu.

Amat mengaku melihat Azanul sedang mencekik korban dalam posisi tertidur. Amat juga sempat menghampirinya, tetapi dia disuruh pergi oleh Azzanul.

"Iya, saya melihat, tapi saya disuruh pergi oleh pelaku (Azzanul, red). 'Pergi kamu dari sini', katanya begitu," kata Amat menirukan ucapan tersangka, menjawab pertanyaan hakim.

"Lalu kenapa Anda tidak menolong atau berteriak?," tanya Hakim. "Dia meminta saya untuk pergi, lalu saya pergi begitu saja, saya takut, karena pelaku memakai baju loreng," katanya.

Setelah menjauh dari lokasi pembunuhan, Amat melapor kepada warga sekitar bahwa dirinya melihat perkelahian dan penganiayaan. Beberapa lama kemudian, warga berusaha mencari lokasi tersebut, karena Amat langsung pergi setelah melapor dan tanpa menunjukkan lokasinya kepada warga.

Akhirnya warga menemukan lokasi pembunuhan wanita hamil dan ibunya di Kampung Panagan. Kedua perempuan itu didapati sudah bersimbah darah. Warga pun ramai-ramai membawa kedua korban ke rumah sakit.

Sementara itu, dalam surat dakwaannya, Oditur Letkol CHK Siabudin membeberkan bahwa Azzanul kali pertama mengenal Shinta saat dirinya menjalani tes kesehatan (Tamtama Kesehatan) di Garut November 2011, lalu. Saat itu, Shinta yang merupakan mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di Garut, akan menemui pacarnya, Pratu Saptono. Azzanul, Saptono, dan Shinta sempat bertemu dan mengobrol.

Azzanul pun meminta nomor ponsel kepada Shinta. Kemudian, Azzanul mengirimkan SMS kepada Shinta sampai akhirnya saling berbalas. Hingga akhirnya, tanpa diketahui oleh pacar Shinta, Pratu Saptono, keduanya sepakat untuk bertemu di suatu tempat di Alun-alun Garut.

Selang beberapa hari kemudian, Azzanul pun kembali mengajak Shinta bertemu di tempat yang sama. Pada pertemuan kedua, Azzanul mengajak Shinta ke kosan Azzanul. Saat di kosan, keduanya bercinta. Peristiwa itu terjadi pada bulan November 2011.

Ketika akan pulang, Shinta berpesan kepada Azzanul agar apa yang dilakukannya itu tidak dibicarakan kepada siapa-siapa, karena Shinta statusnya sedang berpacaran dengan Pratu Saptono. Saat itu, antara Azzanul dan Shinta tak pernah bertemu lagi.

Hubungan mereka berdua hanya sebatas saling kirim SMS, karena Azzanul sibuk dengan tes kesehatan Tamtama. Beberapa bulan kemudian, hubungan Azzanul dengan Shinta semakin renggang. Hingga akhirnya, jangka 1 tahun lebih, keduanya tak pernah berkomunikasi.

Kemudian pada tahun 2013, Shinta menghubungi Azzanul dengan maksud untuk meminta tanggung jawab atas kehamilannya. Azzanul pun tak terima, karena yang dilakukannya itu sudah sangat lama, atau hubungan seks keduanya terakhir dilakukan pada November 2011.

"Terdakwa merasa kehamilan Shinta bukan olehnya, akhirnya dari situlah terdakwa membunuh kedua korban," pungkas Siabudin dalam dakwaan.

Sementara itu, suami Onah sekaligus ayah dari Shinta, Juju, tidak menerima perbuatan yang dilakukan oleh pelaku. "Meskipun kami telah memberikan maaf, bagaimana pun pelakunya harus dihukum mati, karena telah menghilangkan sekaligus dua nyawa, kami meminta dihukum mati saja," pintanya.

Prada Mart Azzanul Ikhwan diduga membunuh Shinta dan ibu Shinta, Onah, di Kampung Panagan Karikil, Desa Sukawargi, Kecamatan Cisurupan, Garut, Senin (11/2/2013) lalu. Azzanul mengaku terpaksa membunuh karena tak terima diminta pertanggungjawaban oleh Shinta atas kehamilan mahasiswi itu.

Dua wanita ini ditemukan bersimbah darah. Shinta ditemukan dengan 18 tusukan di tubuhnya. Perempuan muda ini meninggal dunia ketika akan dibawa ke rumah sakit. Sementara itu, Onah meninggal dunia di lokasi kejadian dengan 12 tusukan. Diduga Azzanul membunuh menggunakan pisau.


Penulis: Kontributor Bandung, Rio Kuswandi
Editor : Farid Assifa