Senin, 28 Juli 2014

News / Regional

Anas Tika, Sang "Profesor Tikus" dari Pinrang

Rabu, 20 Maret 2013 | 09:23 WIB

PINRANG, KOMPAS.com - Bagi para petani, tikus merupakan masalah yang meresahkan karena merusak sawah mereka. Namun di tangan seorang petani di Pinrang, Sulawesi Selatan, tikus justru bermanfaat untuk menyuburkan sawah.

Adalah Anas Tika, seorang petani asal Kecataman Cempa, Kabupaten Pinrang, yang mengolah bangkai tikus menjadi pupuk. Petani teladan tingkat nasional itu bahkan kini berjuluk "Profesor Tikus".

Anas mengatakan, cara membuat pupuk tikus itu sangat sederhana. Dia memasang perangkap raksasa di sekeliling areal sawahnya. Bangkai-bangkai tikus hasil tangkapannya kemudian ke dalam tiga sumur beton berdiameter 1 meter.

Bangkai tikus itu selanjutnya diberi air untuk mempercepat proses penghancuran dan fermentasi. Anas memanfaatkan air limbah, seperti air kelapa, air cucian beras, bahkan air bekas mencuci piring. Air hasil fermentasi itu kemudian dialirkan ke sebuah sumur penampungan sebelum digunakan sebagai pupuk.

Berkat pupuk tikus itu, tanaman padi di sawah Anas terlihat lebih subur ketimbang tanaman padi petani lain. Menggunakan pupuk itu sejak 1998 lalu, sang Profesor Tikus berhasil menggenjot produksi padinya hingga 12 ton per hektare.

Keberhasilan pupuk tikus itu ternyata menarik perhatian petani-petani lain. Awalnya hanya petani di desanya. Lama-kelamaan, orang-orang dari wilayah lain seperti Enrekang, Mamuju, Barru, Polewali, Majene, dan Soppeng pun belajar dari kelompok tani pimpinan Anas.

Anas memang tidak segan berbagi pengalaman dengan pupuk tikus itu. Bahkan kini pria yang hanya tamat SD itu pun sibuk menjadi penyuluh pertanian. Selain menjelaskan cara pembuatan pupuk itu, Anas mempraktikkan cara menggunakannya supaya tanah bisa gembur dan tanaman menjadi subur.

"Seperti pupuk kimia, pupuk tikus kalau digunakan berlebihan juga membahayakan tanaman," Anas menjelaskan.

Dianggap gila

Ide memanfaatkan bangkai tikus itu diawali dengan keresahannya karena hama tikus yang merajalela. Panennya sering tidak berhasil karena serangan tikus. Perhatiannya tergugah ketika tanpa sengaja melihat bahwa tanaman di sekitar tempat dia membuang bangkai tikus terlihat lebih subur.

Dia pun membuat "percobaan" kecil-kecilan. Dia mulai membuang bangkai tikus di beberapa tempat di sawahnya. Ternyata, tanaman di sekitar itu memang lebih subur. Dia pun menyimpulkan bahwa bangkai tikus memang bisa menyuburkan tanah sehingga padi pun lebih subur.

Temuan Anas sempat dicibir tetangga-tetangganya. Dia dianggap gila karena menganggap tikus bisa menjadi pupuk organik yang tidak merusak struktur tanah.

Anas bertahan dengan pendapatnya. Akibat kengototannya itu, Anas bahkan hampir bercerai dengan istrinya. Seperti tetangga-tetangga mereka, istri dan anak-anaknya menganggap Anas tidak waras.

Namun Anas berhasil membuktikan keyakinannya. Berkat temuannya itu, gelar Petani Teladan Tingkat Nasional pun diraihnya. Tahun lalu dia menerima penghargaan atas jerih payahnya itu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kini sudah banyak petani lain yang menggunakan temuannya. Anas tidak keberatan. Dia justru merasa senang. Jerih payahnya, yang dulu dianggap sebagai perbuatan orang tidak waras, kini malah ditiru banyak orang.

Dengan pupuk organik itu, Anas mampu menggenjot produksi padinya, 8-12 ton per hektare. Sementara petani lain yang tidak menggunakan pupuk tikus hanya memproduksi gabah 6-7 ton per hektare sawah.

Dengan 8 ton per hektare saja, Anas sudah bisa mengantongi penghasilan hingga 26 juta setiap kali panen. Setelah menyisihkan untuk biaya produksi, Anas mendapat pendapatan bersih sebesar Rp 21 juta.


Penulis: Kontributor Polewali, Junaedi
Editor : Kistyarini