Senin, 24 November 2014

News / Regional

MAKASSAR

Isu Kecurangan Penerimaan Perwira Polri Merebak

Minggu, 10 Maret 2013 | 08:30 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com — Tuduhan praktik curang dalam proses penerimaan perwira Polri dari anggota berpangkat Brigadir di jajaran Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat merebak melalui layanan berantai pesan BlackBerrry messenger (BBM). 

Di dalam pesan itu tertulis, "Semalam Bapak Kapolri menemui Pak JK di acara mantenan Pak Amin Saleh. Dalam pertemuan singkat tersebut disampaikan bukti-bukti permainan/kecurangan Polda Sulselbar pada seleksi penerimaan sekolah inspektur polisi. No tes. 290 an. Aiptu Ansar anggota Polres Bone nilai kesehatan k1 55 yang harusnya gugur, tetap diluluskan karena calon titipan Kompol Wayan Kabag Dalkar Ro Pers Polda Sulselbar dan No tes. 252 an. Bripka Hasan Fadly anggota Ditlantas Polda Sulselbar ditemukan ada wasir/ambeien saat tes kesehatan, namun tetap diluluskan krn calon titipan AKBP Rudi Subdit Regident Ditlantas Polda Sulsel. Semua calon tsb dipaksakan u/ diluluskan oleh panitia dgn menggugurkan calon yg nilainya bagus, namun tdk mampu memberikan imbalan antara 200-250 juta melalui panitia yg mengalir kemana-mana."

Menanggapi isu itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulselbar Komisaris Besar (Kombes) Polisi Endi Sutendi yang dikonfirmasi Sabtu (9/3/2013) malam mengatakan, informasi tersebut akan ditindaklanjuti oleh Divisi Propam dan Irwasda Polda Sulselbar dengan mengecek seleksi penerimaan perwira Polri yang sudah berlangsung.

"Laporan ini akan kami tindak lanjuti oleh propam dan Irwasda Polda Sulsel. Nanti akan dicek kebenaran informasi tersebut. Tentunya pengecekan akan dilakukan, apakah yang bersangkutan memang gugur atau tidak," jawab Endi.

Dihubungi terpisah, Subdit Regident Ditlantas Polda Sulsel, AKBP Muh Rudi, yang namanya disebut-sebut dalam pesan berantai itu, membenarkan jika dia membantu Bripka Hasan Fadly yang merupakan sopirnya. Bahkan, Rudi mengaku sering memberikan uang untuk keperluan tes Hasan. Selain itu juga, Hasan sering diberi seragam bekas Rudi. Namun, dia membantah bila Hasan membayar sebesar Rp 200 sampai 250 juta untuk lolos seleksi perwira Polri.

"Tidak mungkin saya ambil uang anggotaku yang nyetir mobil setiap hari. Malah saya yang kasi dia support dan berikan uang selalu. Dari mana sopir punya uang sebanyak itu, uang beli bensin saja susah. Saya rela mati-matian demi perbaikan nasib anggotaku, karena saya menganggapnya dia baik. Selama seleksi, nilainya selalu bagus. Hanya penyakit ambeien saja yang tidak terlalu bermasalah dalam seleksi. Lagian juga kalau ambeien dioperasi, pasti akan hilang. Kalau uang ratusan juta dia mau kasi saya, dari mana uangnya. Dia saja ngekos dan belum menikah-nikah," bantah Rudi.

Rudi juga mengaku sempat menghadap kepada Kapolda Sulselbar Irjen Polisi Mudji Waluyo terkait upaya perubahan nasib Hasan. "Saya memang menghadap ke Kapolda untuk minta restu anggotaku mendaftar. Memang kesehatannya sedikit terganggu, yakni penyakit wasir dan minta dibantu. Dalam penerimaan karier Bintara Polri sama sekali tidak ada kecurangan atau saya jadi calo. Silakan ngecek kebenarannya," tandas Rudi.

Sementara itu, Bripka Hasan justru mengaku diberi uang Rp 1,5 juta untuk biaya tes ke Jakarta. "Di mana saya ambil uang sebanyak itu, saya saja dikasih uang sama Pak Rudi. Saya ini sopir pak Rudi. Karena kasihan sama saya, saya dikasih uang, bukan saya yang menyogok. Insya Allah besok pagi saya sudah berangkat ke Jakarta pukul 07.00 Wita untuk mengikuti tes selanjutnya," kata Hasan.


Penulis: Kontributor Makassar, Hendra Cipto
Editor : Glori K. Wadrianto