Kamis, 23 Oktober 2014

News / Regional

Kesehatan

Cakupan ASI Eksklusif Masih Rendah

Selasa, 11 Desember 2012 | 16:09 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu Hindarini, Selasa (11/12/2012), mengatakan, cakupan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran di Provinsi Bengkulu masih rendah. Kurangnya kesadaran ibu terhadap manfaat ASI ditengarai menjadi penyebab.

Berdasarkan data riset kesehatan dasar, angka cakupan pemberian ASI ekslusif di Provinsi Bengkulu baru mencapai 47 persen. "Kami ingin cakupan ASI bisa mencapai 100 persen tapi banyak kendala. Masih banyak ibu yang lalai memberikan ASI dan justru menggantinya dengan susu formula atau susu kental manis," kata Hindarini.

Sebagian masyarakat masih menganggap memberikan susu formula kepada bayi jauh lebih baik dibandingkan memberikan ASI. Padahal, dalam jangka panjang pemberian susu formula berdampak buruk pada kesehatan anak.

Di Kota Bengkuli, kata Kepala Seksi Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kota Bengkulu Desri Suryani, cakupan ASI eksklusif di ibukota provinsi itu masih rendah. Tahun 2011 cakupan ASI baru 43,3 persen sedangkan periode Januari-September 2012 angka cakupan ASI eksklusif naik jadi 51 persen dari 8.013 bayi.

Akan tetapi, kenaikan angka cakupan itu pun masih di bawah sasaran yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar 70 persen di tahun 2012 ini.

Warga Lingkar Barat, Kota Bengkulu, Betty Herlina, yang baru saja melahirkan, menuturkan, sebenarnya ia ingin anaknya yang baru lahir diberi ASI eksklusif. Akan tetapi, karena ketika lahir beratnya 2.400 gram akhirnya dokter menyarankan selain disusui bayinya diberi susu formula juga.

"Kalau nanti sudah masuk kerja saya merasa perlu ada pojok ASI di tmepat kerja agar tetap bisa memerah ASI untuk si kecil," katanya.


Penulis: Adhitya Ramadhan
Editor : Marcus Suprihadi