Sabtu, 19 April 2014

News / Regional

Lau Kawar, Danau Misteri di Kaki Sinabung

Minggu, 10 Juni 2012 | 23:20 WIB

Baca juga

KOMPAS.com - Bersama tiga orang teman, menaiki sepeda motor berboncengan, kami menyusuri malam Kota Medan menuju Lau Kawar, danau yang berada di kaki Gunung Sinanung, Kabupaten Karo.

Perjalanan malam selama kurang lebih tiga jam memang menjadi pilihan untuk menghindari teriknya matahari pada siang dan sore hari, serta macet panjang yang kerap terjadi, apalagi jika perjalanan dilakukan pada malam minggu.

Rute di mulai dengan melewati Pancur Batu, Pemandian Sembahe, Bumi Perkemahan Sibolangit. Singgah sebentar menikmati dingin di ketinggian dengan segelas teh dan jagung rebus di Penatapan atau bakaran jagung.

Lalu melanjutkan jalan berliku dengan kanan kiri rumah penduduk, pengunungan, kebun sayur, pohon pinus, semakin indah saat bulan purnama.

"Matikan lampu, biar sinar bulan menyinari perjalan kita," kata seorang teman, selepas melewati pemandian air panas Lau Sidebu-debuk, yang juga jalur I pendakian menuju Gunung Sibayak.

Taman Hutan Raya (Tahura) Berastagi sudah tertinggal, mulai memasuki Peceren yang terkenal dengan penganan wajiknya, lalu sampai di pusat Kota Berastagi.

Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, maka perjalan menuju Lau Kawar harus dipercepat. Pasalnya, perjalanan akan ditempuh sekira satu jam lebih dengan kondisi medan jalan kecil berliku, menanjak, dan berlubang.

Tidak ada lampu jalan, kanan-kiri perjalanan dihiasi kebun sayur, ladang jeruk penduduk, dan jurang.

Sekira pukul 21.30 WIB, jalanan semakin mengecil, tak lama terlihat bangunan kecil yang sudah rusak, pos masuk.

Mulai terlihat Deleng Lancuk, danau yang indah dalam kebisuannya, dan Gunung Sinabung dengan ketinggian 2.451 dpl bersembunyi di balik gelap dan dinginnya malam.

Terlihat beberapa tenda para pecinta dan penikmat alam berdiri di areal camping ground, tak jauh dari bibir danau. Setelah membayar retribusi masuk sebesar Rp 2.500 per orang, dan Rp 5.000 per tenda, kami pun mulai mendirikan tenda, tepat di samping pohon besar yang tak jauh dari danau.

Setidaknya pohon ini cukup membantu menghalangi angin yang bertiup sangat kencang malam ini. Semakin malam, dingin semakin menusuk, kami coba mencari penghangatan dengan membuat api unggun dan menyeduh kopi.

Sudah pasti, bagi yang perokok akan menghabiskan berbatang-batang rokok untuk menghalau dingin. Seorang teman yang membawa gitar mulai memainkan tembang-tembangnya, dan cerita tentang danau yang diam dengan misterinya mengalir.

Bagi kami, danau ini cukup eksotis dan layak untuk dijadikan objek wisata andalan. Minimal bagi mereka yang tak sempat ke Dabau Toba dapat menghilangkan rindunya dengan mendatangi danau ini.

Tapi sepertinya Pemerintah Kabupaten Karo, kurang perduli terhadap hal ini. Penataannya minim, begitu juga dengan fasilitas umum yang ada.

Dinda, teman yang tergabung dalam salah satu kelompok pecinta alam di Medan mengatakan bahwa danau ini ada karena tangisan seorang ibu melihat anaknya Sinabung dan Sibayak terus berkelahi. Ada juga yang bilang bahwa danau ini merupakan tangisan seorang ibu yang begitu bersedih karena saat anak dan menantunya mengadakan pesta adat, tak sedikit pun mengingatnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa dulu hidup seorang nenek yang memilih tinggal di puncak Gunung Sinabung, sementara anak, cucu dan keluarganya berdiam di kaki gunung. Suatu ketika, keluarganya mengadakan pesta dan mengutus seorang cucu untuk mengantarkan makanan kepada sang nenek.

Namun di tengah perjalanan, cucu yang kelaparan menghabiskan makanan yang dibawanya. Mengetahui hal ini, nenek yang murka lalu menampar dan menyumpahi cucunya. Karena terus menangis, air mata cucu tersebut lama-kelamaan akhirnya membentuk sebuah danau.

"Namanya mitos, dongeng, kalau pakai logika terserah mau percaya atau tidak," kata Dinda tersenyum.

Lanjut dia, ada beberapa pantangan di daerah ini. Seperti yang lazim berlaku di mana pun, harus bersikap dan bicara sopan, dilarang berbuat asusila, memotong anjing, atau membuang pembalut wanita ke danau.

Kalau dilanggar, maka penunggu danau dan gunung akan marah yang ditandai dengan datangnya badai.

"Aku tak percaya. Jadi aku pernah coba membuang pembalut ke danau. Sekitar satu jam kemudian, datang badai. Semua orang naik ke atas meninggalkan tenda, tapi aku malah menuju danau. Seperti ada yang menarikku, syukurnya seorang teman menyadarkan dan membawaku ke atas. Kejadian itu sedikit membuatku percaya bahwa ada misteri di danau ini," unggap perempuan berambut sebahu itu.

Pagi menjelang. Sangat indah ketika memandang danau yang masih diselimuti kabut, dan puncak Gunung api Sinabung dengan tipe strato atau berlapis yang menantang.

Saatnya mendaki jika menginginkannya, walau medannya cukup berat dan melelahkan. Kalau berangkat lebih pagi sekira pukul 02.00 WIB, kita akan melihat matahari terbit, lalu menuruni gunung dengan suguhan pemandangan danau yang sangat indah.

Kawah Batu Siliga adalah kawah belerang panas yang berada dipuncak Sinabung, yang juga menyimpan banyak misteri, khususnya tentang para pendaki yang tersasar atau hilang. Bagian puncak cukup luas dan terjal, sebelah timur terlihat keindahan Danau toba dan kota Medan dikejauhan.

Sebelah barat dengan danau lau kawar dan hamparan rumah penduduk disekitar kaki gunung. Juga puncak Gunung Sibayak dan barisan Bukit Barisan yang hijau. Suhu di puncak ini sekitar 15 derajat Celcius.

Selain camping ground, di kaki gunung juga terdapat warung-warung milik warga setempat yang menyediakan makanan dan minuman. Kita bisa mengisi siang hari dengan memancing, atau mencoba menyusuri jalur tracking di Lancuk yang puncaknya merupakan salah satu puncak tertinggi, atau jika memungkinkan menyewa perahu motor untuk mengelilingi danau. Tarifnya sekira Rp 10 ribu per orang.

Menurut Dinda, setiap orang yang pernah datang mendaki dan mandi di danau Lau Kawar pasti akan datang kembali. Bagaimana dengan Anda? Tidak tertarik mencobanya?


Penulis: Kontributor Medan, Mei Leandha
Editor : Tri Wahono