Kamis, 27 November 2014

News / Regional

Tiga Kecamatan Mamuju Mengandung Uranium

Sabtu, 17 Maret 2012 | 01:52 WIB

MAMUJU, KOMPAS.com - Peneliti tambang memperkirakan potensi uranium terdapat di tiga kecamatan di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

"Titik uranium tidak hanya di Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju seperti yang diteliti Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) yang melakukan penelitian terkait adanya kandungan uranium di Kabupaten Mamuju," kata Peneliti tambang Nurdin Ashat, ST, di Mamuju, Jumat (16/3/2012).

Ia mengatakan, potensi uranium diantaranya juga terdapat di Desa Belang Belang, Kecamatan Kalukku, sekitar 30 kilometer dari Kota Mamuju dan di Kecamatan Tobadak sekitar 100 kilometer dari Kota Mamuju.

"Setelah kami melakukan penelitian tambang di Mamuju, potensi uranium ditemukan di Mamuju, namun dianggap tidak berbahaya, karena sifatnya hanya sebagai bahan baku yang dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan tenaga nuklir," katanya.

Sehingga ia meminta Bepeten segera meneliti titik potensi kandungan uranium di Kecamatan Kalukku dan Kecamatan Tobadak itu.

Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir Bapeten Dr Khoirul Huda M Eng sebelumnya mengatakan, Bepeten sementara sedang melakukan penelitian potensi uranium di Mamuju yang diperkirakan memiliki kandungan uranium sangat tinggi sehingga dilakukan penelitian lebih mendalam.

"Hasil penelitian yang telah kami lakukan menyimpulkan Mamuju adalah daerah tertinggi radioaktifnya di Indonesia. Ini menunjukan ada potensi uranium di daerah Mamuju," ujarnya.

Ia mengungkapkan, laju dosis radioaktif di Mamuju sama dengan wilayah Pocos de Caldas Brazil yakni 250 nsv per tahun.

Menurut Khoirul Huda, dalam penelitian yang dilakukan berdasarkan data pemetaan radioaktivitas lingkungan yang dilakukan oleh BATAN, secara umum kondisi radioaktivitas lingkungan di Mamuju berada pada tingkat di atas normal.

Ia mengatakan, potensi paling tinggi di Mamuju ditemukan di wilayah bukit Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang, sekitar 40 kilometer dari Kota Mamuju, tinggi radioaktivitas di desa tersebut berkisar antara 2.000-3.000 nsw per jam.

Ia juga menyatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan kondisi tersebut, karena ada beberapa pendekatan yang akan dilakukan dengan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah sebagai solusi yang harus ditindaklanjuti.

Misalnya, kata dia, pemerintah daerah harus membuat perencanaan infrastruktur yang memungkinkan agar bisa menghindari radioaktif yang tinggi.

"Umumnya jika radioaktif tinggi maka berpotensi adanya kandungan uranium. Ini juga menandakan pasti ada sesuatu kandungan yang berharga di dalamnya," katanya.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: