Senin, 21 April 2014

News / Regional

Harga Kopra Terimbas Krisis

Rabu, 18 Januari 2012 | 15:59 WIB

Baca juga

TOBELO, KOMPAS.com -- Harga kopra di Halmahera Utara, Maluku Utara, dalam setahun terakhir cenderung menurun terpengaruh krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Harga kopra yang pada awal tahun lalu bisa mencapai Rp 11.000 per kg, kini hanya sekitar Rp 5.000 per kg.

"Ini terjadi karena harga kopra sepenuhnya tergantung pada harga yang berlaku di pasaran dunia," kata Kepala Seksi Bina Sarana dan Usaha Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Halmahera Utara Demas Kanalung, Rabu (18/1/2012) di Tobelo.

Penurunan harga ini praktis berimbas pada menurunnya pendapatan petani kopra. Padahal kopra merupakan unggulan utama di Halmahera Utara sekaligus tumpuan bagi sebagian masyarakatnya.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Halut, di daerah itu ada 35.209 petani kopra dengan produksi kopra pada tahun 2011 mencapai 71.325 ton. Adapun luas areal tanaman kelapanya 50.093 hektar. Petani kopra dan areal tanaman kelapa itu tersebar di seluruh kecamatan berjumlah 17 kecamatan.

Kepala Dinas Pertanian Halut Ferdinand Hangewa mengatakan, tahun lalu pemerintah telah membentuk koperasi bernama Homadebini untuk menstabilkan harga jual kopra. Koperasi ditargetkan bisa membeli kopra petani saat harga turun, dan menjualnya saat harga kembali tinggi.

"Namun, sayang koperasi ini belum diminati petani, sehingga belum bisa menjalankan perannya. Kami masih terus sosialisasi ke petani soal pentingnya koperasi itu," kata Ferdinand.


Penulis: Antonius Ponco A.
Editor : Nasru Alam Aziz