Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Regional

Antisipasi Bencana

11 Kecamatan di Gresik Siaga Bencana

Jumat, 23 Desember 2011 | 19:07 WIB

GRESIK, KOMPAS.com - Musim hujan dengan curah dan intensitas tinggi, berpotensi menimbulkan bencana alam di Gresik, Jawa Timur, khususnya dari Kali Lamong dan Bengawan Solo. Sebanyak 11 kecamatan berstatus siaga darurat bencana.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gresik, Iwan Lukito, Jumat (23/12/2011), menjelaskan, status siaga bencana untuk persiapan penanganan bencana, termasuk pengajuan bantuan darurat kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Wilayah terdampak Kali Lamong tercatat 61 desa di enam kecamatan yakni Benjeng, Kedamean, Balongpanggang, Cerme, Menganti, dan Kebomas. Wilayah terdampak aliran Bengawan Solo yang masuk dalam siaga bencana adalah Dukun, Ujungpangkah, Manyar, Sidayu, dan Bungah. Daerah-daerah itu berpotensi banjir dan bencana  tanah longsor.

Menurut Iwan, kesiapan penanganan bencana di Gresik masih tergolong minim, masih cukup banyak kekurangan seputar fasilitas penanganan.

Potensi bencana di luar banjir dan longsor juga sudah disampaikan ke BNPB, seperti kondisi jembatan yang kritis. Jembatan di Bulangkulon dan Bengkelolor, Kecamatan Benjeng, misalnya, ditutup karena membahayakan.

Berdasarkan data prakiraan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Juanda, Gresik termasuk dalam kategori tinggi yang berpotensi terjadi banjir dan tanah longsor. Curah hujan pada Januari-Februari 2012 masuk kategori mengkhawatirkan.

Pada Januari curah hujan di wilayah Gresik sangat tinggi berkisar antara 401 -500 milimeter. Prediksi pada Februari curah hujan masuk kategori tinggi mencapai 301-400 mm. Potensi banjir 2012 diprediksi lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya, karena masuk siklus banjir lima tahunan.

Sementara tanggul Bengawan Solo di Dusun Grape, Desa Kanor Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro yang amblas sedalam 2 meter dan sepanjang 200 meter, kini diuruk dengan karung pasir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menempatkan 20.000 karung pasir di sepanjang tanggul yang amblas.

Kepala BPBD Bojonegoro, Kasiyanto, menuturkan pembangunan tanggul banyak membantu warga mengatasi banjir yang setiap tahun menjadi langganan.

Parapet (tembok penahan) yang baru dibangun juga amblas sedalam 60 sentimeter dengan panjang 30 meter, juga telah dilaporkan ke Balai Besar Bengawan Solo.

Berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan Stasiun Klimatologi Karangploso, Malang, pada Desember curah hujan di Bojonegoro berkisar 197 milimeter-956 mm, dengan sifat hujan 100 persen di atas normal.

"Sementara ini Bengawan Solo masih aman, tetapi patut diwaspadai banjir bandang," tutur Kasiyanto.

 


Penulis: Adi Sucipto
Editor : Agus Mulyadi