Minggu, 21 Desember 2014

News / Regional

Daripada Tawuran, Ayo Ikut Pencak Dor

Sabtu, 9 Juli 2011 | 06:52 WIB

KEDIRI, KOMPAS.com - Puluhan pendekar dari beberapa daerah di Jawa Timur beradu kekuatan dalam pertarungan bebas yang digelar dikomplek aula Muktamar Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Jum'at (8/7/2011) malam.

Pendekar-pendekar dari berbagai perguruan beladiri itu bertarung dengan tangan kosong satu lawan satu di sebuah panggung bambu berukuran lima meter persegi dengan tinggi tiga meter.

Namun, masyarakat yang bukan pendekar pun, asalkan bernyali besar, boleh mengikuti mengikuti ajang pertarungan bebas yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai "pencak dor" itu.

Tidak ada peraturan khusus yang mengatur jalannya pertarungan, peserta dibebaskan memukul, menendang ataupun menjatuhkan lawan yang telah dipilih sendiri sebelumnya.

"Peraturannya hanya tidak boleh memukul jika wasit, yang melihat kondisi petarung, sudah bilang berhenti," kata Agus Muhtadi, ketua panitia.

Kegiatan itu, Agus Muhtadi menambahkan, adalah medium untuk membentuk jasmani yang sehat serta menumbuhkan dan menempa mental ksatria bagi para peserta yang kebanyakan masih muda.

"Daripada tawuran gak jelas dan bikin repot masyarakat, selesaikan saja secara ksatria di sini. Tetapi ingat, di atas (panggung) lawan di bawah (panggung) kawan," pesan pria yang masih kerabat dari almarhum KH.Maksum Jauhari, pendiri perguruan silat Pagar Nusa ini.

Meskipun tidak ada imbalan apapun kecuali sepiring nasi selepas turun panggung, animonya peserta cukup tinggi. Mereka yang tidak sabar mengantre, berebut segera bisa naik bertarung di atas panggung.

"Untuk mengetahui kemampuan diri saja. Sebab, saya ingin tahu sampai sejauh mana saya mampu bertahan," kata Supriyadi (23), salah seorang peserta yang mengalami beberapa luka memar di wajahnya.

Hingga berakhir pada Sabtu (9/7/2011) sekitar pukul 01:00 WIB, acara dipadati ribuan penonton tersebut berjalan lancar. Tidak ada satu pun peserta yang mengalami luka serius.


Editor : Kistyarini