Rabu, 26 November 2014

News / News & Features

Penyakit Kurang Gizi Orang Modern

Rabu, 21 Juli 2010 | 15:28 WIB

KOMPAS.com — Orang modern yang menu hariannya lengkap sekali pun masih berisiko kekurangan gizi karena tiga hal. Pertama, lapisan tanah (topsoil) bumi kita sudah kritis sehingga tidak lengkap memberi makan bagi tanaman maupun hewan yang makan rerumputan dan dedaunan.

Kedua, cara olah makanan secara berlebihan menghilangkan sebagian nutrisinya. Hal lain, penyimpanan sumber bahan makanan yang lama, selain didinginkan, menghilangkan pula sebagian zat gizinya.

Total jenderal, kendati menu hariannya beragam, tetap saja berisiko kekurangan gizi akibat kondisi tersebut menjadikan sumber bahan makanan kehilangan sebagian zat gizi yang dikandungnya.

Tidak heran kalau sekarang banyak keluhan pegal linu hanya lantaran kekurangan vitamin B1, dan vitamin B grup lainnya. Itu karena orang modern memilih beras giling yang sudah hilang vitamin B-nya. Kita mendengar sekarang bekatul sebagai ampas kulit ari beras giling dicari orang, dan beras tumbuk kini menjadi lebih tinggi harganya dibanding beras giling, jenis menu junk food, fast food, dan yang diolah berlebihan, termasuk yang disimpan lama, sudah kehilangan sebagian nutrisinya.

Kehidupan orang modern yang serba praktis, dan cenderung memilih menu yang sudah disimpan, atau diolah secara berlebihan (refine diet), berisiko kekurangan sebagian besar nutrien. Bila itu berlangsung lama, makin berisiko memunculkan penyakit kurang gizi orang kecukupan makan.

Kurang gizi orang yang kecukupan makan kini menggejala. Kalau keluarga cenderung memilih menu restoran, makanan kalengan, dan yang serba instan lainnya, tubuhnya terancam kekurangan satu, bahkan lebih zat gizi yang dibutuhkan tubuhnya setiap hari. Kalau yang kurang itu bersifat esensial, penyakit kurang gizinya lebih lekas munculnya.

Kulit kering, rambut lekas rontok, jantung berdebar, dan iramanya tak teratur, mungkin disebabkan hanya oleh kekurangan nutrien belaka. Asam amino esensial yang kaya dalam telur tidak boleh sampai kekurangan, termasuk asam lemak esensial. Tahunya bahwa kekurangan gizi orang modern yang makannya cukup, bukan orang kekurangan, kini menggejala, ditegaskan oleh bermunculannya aneka ragam suplemen yang ditawarkan. Itu bagian dari kelemahan menu orang Barat (westernized diet), dan sebetulnya bukan masalah kita.

Namun, bila kita meniru menu makan orang Barat, yang akan terjadi, nasib tubuh kita sama terancam kurang gizinya seperti kebanyakan dari mereka. Hanya orang yang setia pada menu nenek moyang kita, jenis menu seimbang itu, yang akan selamat dari kurang gizi.

Orang sekarang badannya saja kelihatan gemuk dan tambun, namun kalau diperiksa, tentu ada saja satu atau mungkin lebih zat gizi yang kekurangan di tubuhnya. Sekadar mineral kalium saja, kita tahu bikin jantung berdebar tanpa harus ada penyakit jantung.

Kekurangan selenium juga akan begitu. Kekurangan zinc, antara lain, badan jadi kurang kebal. Tak heran, segala suplemen yang menimbulkan gejala kurang gizi orang modern kini ditawarkan.

Kita melihat orang mulai menginsafi kesalahannya memilih menu harian yang tecermin di pasar swalayan. Segala jenis sumber makanan orang zaman dulu kini muncul lagi. Ada ubi, talas, kacang-kacangan, lalapan, beras tumbuk, beras merah, dan gula merah untuk menutupi kekurangan gizi yang mungkin rata-rata orang sekarang alami.

Menu nenek moyang

Kalau saja kita menginsafi pentingnya keanekaragaman menu harian, ancaman kurang gizi tidak perlu terjadi. Seiring bertambah usia, memang dianjurkan agar semakin mengurangi asupan kalori.

Kalori terbanyak diperoleh dari lemak dan yang serba manis. Porsi jenis menu seperti itu yang wajib dibatasi. Lauk pauknya, berupa ikan, daging, telur, tahu, tempe, bahkan minyak, dan lemak bukannya harus distop sama sekali. Demikian pula telur, daging kambing, atau gajih. Hanya saja, porsinya yang dibatasi, bukannya tidak mengonsumsinya sama sekali.

dr Handrawan Nadesul


Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: