Jumat, 25 April 2014

News /

Reklamasi Lahan Galian C

Selasa, 8 Juni 2010 | 12:52 WIB

Baca juga

Oleh LUTFIYAH HANDAYANI

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Kanci dan Jalan Tol Kanci-Pejagan, beberapa bulan lalu, menambah intensitas penambangan galian C di Cirebon. Kebutuhan akan tanah uruk untuk pembangunan tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah.

Lemahnya kesadaran para pelaku pembangunan untuk menjaga keseimbangan lingkungan menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan alam. Untuk memenuhi kebutuhan tanah uruk pembangunan tersebut, penambangan dilakukan secara sporadis, bahkan ke daerah yang dilarang untuk penambangan.

Penambangan di wilayah Cirebon timur, mulai Kanci, Astanajapura, hingga Ciledug, telah mengakibatkan kekacauan sistem irigasi, berkurangnya kawasan resapan air bawah tanah, kerusakan bentang alam, hilangnya kesuburan tanah, dan gangguan fungsi hidrologis. Kondisi yang memprihatinkan tersebut sudah menuai bencana bagi warga masyarakat. Pada musim hujan kali ini banjir dan longsor melanda beberapa desa, terutama di bantaran Sungai Cisanggarung.

Pihak Pemerintah Kabupaten Cirebon tidak berupaya keras membantu reklamasi pada daerah bekas galian C tersebut. Lahan kritis di wilayah Cirebon timur dibiarkan. Untuk mengurangi kerusakan alam, tampaknya hukum lingkungan sudah tidak ampuh digunakan karena pelanggaran terus terjadi. Diperlukan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Hal tersebut dapat dimulai dari mengoptimalkan fungsi program konservasi lingkungan yang sudah dibuat Pemkab Cirebon.

Menggalakkan reklamasi

Menggalakkan reklamasi pada lahan bekas galian C di wilayah Cirebon timur seharusnya menjadi sasaran program perlindungan dan konservasi sumber daya alam serta program rehabilitasi sumber daya alam di Kabupaten Cirebon. Program kali bersih, pendirian sekolah berbudaya lingkungan, dan konservasi sumber daya air yang dicanangkan Pemkab Cirebon akan menjadi awal yang baik bagi pemulihan kerusakan lingkungan yang sudah terjadi.

Penegakan hukum lingkungan harus dilakukan tanpa pandang bulu. Pemerintah daerah harus tegas memberikan sanksi kepada pengusaha yang mbeler melakukan penambangan pada lokasi terlarang.

Eksplorasi dan pembangunan berdalih tidak lagi mengorbankan lingkungan, sementara yang terjadi sekarang adalah eksploitasi terus-menerus tanpa upaya reklamasi. Itu sama saja dengan kita menunggu bom waktu bagi meletusnya bencana alam yang lebih besar dari banjir dan longsor yang sudah terjadi di wilayah Cirebon.

Dulu para leluhur kita mengupayakan dan mempertahankan kelestarian lingkungan dengan berbagai cara. Bahkan mereka menanamkan keyakinan adanya jagat dalam pada alam yang mereka huni. Hutan dijadikan ruang magis yang akan memberikan keseimbangan kehidupan manusia itu sendiri.

Sebut saja kepercayaan yang ditanamkan beratus tahun silam oleh para leluhur tentang mitos Gunung Ajimut Ciledug. Dengan keyakinan tersebut, masyarakat menjaga keberadaannya. Masyarakat adat sekitar melarang penambangan pada daerah itu. Namun, kerakusan manusia menumpas habis nilai-nilai yang tertanam di masyarakat tersebut. Terbukti Gunung Ajimut pun dijadikan lokasi penambangan. Alih fungi lahan pertanian terjadi. Perkebunan rakyat produktif menjadi kawasan penambangan illegal.

Kampanye peduli lingkungan

Diperlukan keterlibatan semua komponen untuk mengembalikan kondisi kesehatan lingkungan di Cirebon timur, Gerakan rehabilitasi lingkungan berbasis masyarakat dapat dijadikan alternatif untuk memulai kampanye peduli lingkungan hidup yang selama ini terabaikan. Agenda reklamasi yang menjadi tanggung jawab pengusaha penambangan dan pemerintah dengan sendirinya akan mendapatkan respons dari masyarakat jika pemerintah mencanangkan program peduli lingkungan secara massal.

Mengingat kondisi lingkungan yang parah di wilayah Cirebon timur, Pemkab harus segera mengambil kebijakan untuk menyelamatkan wilayahnya dari bencana. Bupati Dedi Supardi harus mendesak para pengusaha untuk melakukan reklamasi di daerah bekas galian C.

Reklamasi bisa dimulai dengan kegiatan menanam kembali pohon pada lahan kritis bekas galian C sehingga membantu regenerasi struktur tanah dan mengembalikan kesuburan tanah. Sistem irigasi diperbaiki dan pola sengkedan pada lahan pertanian diterapkan. Penerapan teknologi lingkungan sederhana menjadi pilihan untuk memulai hidup baru dengan kondisi lingkungan yang sehat dan seimbang.

LUTFIYAH HANDAYANI Pegiat Lingkar Studi Sastra Cirebon


Editor :