Senin, 1 September 2014

News / Regional

Jatim Hentikan Impor Sapi Potong

Senin, 31 Mei 2010 | 20:17 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Di Jawa Timur terjadi disparitas signifikan antara harga sapi potong lokal dengan harga daging sapi. Untuk menghindari terpuruknya harga sapi potong lokal, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menghentikan impor sapi potong dan daging beku sapi.

"Saat ini, harga ternak sapi turun dari rata-rata Rp 14 juta per ekor menjadi Rp 10 juta per ekor. Akan tetapi, harga daging sapi tetap tinggi berkisar Rp 58.000 per kilogram. Ada dugaan, pasar daging sapi dikuasai oleh pihak-pihak tertentu," kata Gubernur Jatim Soekarwo, Senin (31/5/2010) di Surabaya.

Soekarwo mengakui, secara nasional pasokan daging sapi ke Indonesia kurang. Namun demikian, ia berharap jangan sampai kebijakan ekspor sapi potong atau daging beku sapi justru memberi pukulan berat pada harga ternak sapi lokal. "Untuk mencegah masuknya sapi-sapi potong impor dan daging sapi impor, maka pintu-pintu masuk di balai karantina hewan Jatim akan diawasi ketat," ujarnya.

Terima dampak

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Zainal Abidin menambahkan, Jatim menerima dampak dari impor sapi potong dan daging sapi yang selama ini terjadi di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Dengan masuknya produk impor sapi potong dan daging sapi ke kedua provinsi tersebut, maka hasil ternak sapi lokal Jatim sulit masuk.

"Selama ini Jatim tak mengimpor sapi potong dari luar negeri tapi hanya menyediakan sapi indukan atau bibit saja. Tapi, impor yang terjadi di DKI Jakarta dan Jabar turut berdampak pada lesunya penjualan sapi lokal Jatim," kata Zainal.

Selain persoalan tentang rendahnya harga ternak sapi, hampir setiap hari Jatim kekurangan pasokan susu 700 ton per hari. Produksi susu sapi Jatim per hari hanya 950 ton, padahal kebutuhan susu di Jatim mencapai 1.650 ton per hari. Untuk meningkatkan produksi susu, Pemerintah Provinsi Jatim mengimpor secara rutin 489 sapi dari Australia setiap tahun.


Editor : made