Selasa, 21 Oktober 2014

News / Edukasi

Kasus Plagiat

Dosen dan Mahasiswa Unpar Ikut Terpukul

Selasa, 9 Februari 2010 | 17:34 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Kalangan dosen dan mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan ikut terpukul atas kabar mengejutkan dari Prof Anak Agung Banyu Perwita yang diduga melakukan plagiat. Mereka sempat tidak menyangka, guru besar terfavorit di Hubungan Internasional Unpar sampai melakukan hal itu.  

"Selama ini, bagi fakultas, dia (Banyu Perwita) telah menjadi salah satu ikon yang ikut membesarkan HI. Dan kami bangga dengan itu. Tetapi, dengan adanya kejadian ini, tentunya kami sangat kecewa dan sedih," tutur Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FISIP Unpar Pius Sugeng Prasetyo, Selasa (9/2/2010).

Banyu Perwita selama ini dikenal sebagai profesor muda yang cerdas, santun, dan ramah. Bahkan, saking cemerlang kariernya, ia sempat menduduki banyak jabatan strategis, salah satunya wakil rektor. Bahkan, ia juga disebut-sebut sebagai profesor di bidang HI yang termuda di Tanah Air, yaitu dalam usia 41 tahun. Pada 14 Januari 2008, ia menyampaikan orasinya untuk pertama kali sebagai guru besar.

Di kalangan mahasiswa, ia dikenal sebagai dosen yang baik, ramah, bersahaja, dan egaliter. "Pada dasarnya, ia brilian. Kontribusi buat HI Unpar sangat besar. Dan, ia adalah salah satu dosen terfavorit di sini," tutur Reza Ihsan (21), mahasiswa tingkat III HI Unpar.

Menurut dia, kehadiran dosen yang biasa mengampu mata kuliah Politik Global AS dan Kajian Strategis ini hampir selalu dinanti-nantikan di ruang kuliah. "Dia selalu mendorong mahasiswa menjadi open mind. Mendorong mahasiswa untuk berpikir luas dan banyak membaca jurnal-jurnal internasional, serta media internasional macam BBC, Herald Tribune, dan sebagainya," tuturnya.

"Kalau umumnya dosen pintar enggak bisa mengajar, tetapi dia tidak. Selain pintar, juga bisa mengajar dengan baik," ungkap Theresia (20), mahasiswi HI Unpar.


Editor : primus