Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapal Ikan Berbendera Rusia Ditangkap di Laut Arafura, 30 ABK Diamankan

Kompas.com - 19/05/2024, 16:48 WIB
Rahmat Rahman Patty,
Reni Susanti

Tim Redaksi

AMBON, KOMPAS.com - Petugas Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap sebuah kapal ikan berbendera Rusia di Laut Arafura, Maluku.

Kapal dengan nama lambung KM Run Zeng 03 itu ditangkap saat sedang beroperasi secara ilegal di perairan laut Arafura pada Minggu (19/5/2024).

Penangkapan kapal asing tersebut dipimpin Plt Direktur Jenderal PSDKP, Pung Nugroho Saksono dengan menggunakan Kapal Pengawas Paus 01.

Baca juga: Baling-baling Rusak, KM Vivie Rae II Muat 6 WNA Terombang-ambing di Laut Arafura

"Kapal ini sudah menjadi target operasi sejak satu bulan lalu di Laut Arafura," kata Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu.

Nugroho menjelaskan, kapal berbendera asing itu memiliki 30 ABK. Terdiri dari 12 ABK Warga Negara Indonesia (WNI) dan sisanya warga asing.

Menurutnya, dari hasil interogasi yang dilakukan petugas terungkap, kapal tersebut telah beroperasi di peraiaran Indonesia sejak 12 Januari 2024.

"Saat dilakukan interogasi awal, Nakhoda KIA RZ 03 berinisial WZJ, mengaku berangkat dari negara asal pada Mei 2023 dan melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia sejak 12 Januari 2024," ungkapnya.

Baca juga: 10 ABK Selamat Saat KM Setia Makmur yang Mengangkut 25 Orang Tenggelam di Perairan Arafura

Nugroho mengungkapkan, KM Run Zeng 03 yang ditangkap itu berbobot 870 GT.

Keberadaan kapal tersebut di perairan laut Arafura dikeluhkan para nelayan lantaran kapal tersebut menggunakan alat tangkap terlarang yaitu trawl dengan hasil tangkapan 30 ton ikan campur.

“Kapal ini sudah meresahkan nelayan. Sebab penggunaan trawl merusak terumbu karang. Kerusakan ekologi yang terjadi jauh lebih besar daripada kerugian ekonomi,” ujarnya.

Penangkapan kapal ikan asing itu merupakan perintah langsung dari Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

"Pak menteri selalu menekankan bahwa kelestarian ekologi harus dijaga. Jangan sampai anak-cucu nanti tidak bisa lagi menikmati ikan yang melimpah di laut," beber dia.

Menurutnya, banyak kapal asing beroperasi untuk mencuri ikan di perairan laut Indonesia karena laut mereka telah rusak dan tidak ada lagi stok ikan yang cukup.

”Kenapa nelayan dari negara lain mencuri ikan di laut kita, sebab laut mereka sudah hancur dan tidak ada ikan karena ulah kapal-kapal menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti trawl itu,” ujarnya.

Selain KM RZ 03, pihaknya juga ikut menangkap KM Y KII jenis pengangkut asal Probolinggo Jawa Timur berukuran 157 GT.

Kapal itu diduga turut serta membantu operasional kapal asing tersebut dengan mendistribusikan logistik makanan dan BBM.

"Kami juga mengamankan KM Y, yang turut serta mensuplai logistik dan BBM. Kami mengimbau agar KII tidak membantu aktivitas kapal asing ilegal dalam mencuri ikan di perairan Indonesia,” katanya.

Adapun kedua kapal tersebut telah dikawal petugas menuju Pangkalan PSDKP Tual, Maluku, untuk diproses lebih lanjut.

"Kasus ini akan didalami lebih lanjut, kami akan memfokuskan pada penyidikan dalam rangka memecahkan kasus tindak pidana ini, karena sudah mulai muncul benang merahnya, terang benderang," pungkasnya. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Usai Bunuh Ayah Kandung, Ngadimin Lukai Diri Sendiri dan Sempat Berobat ke Puskesmas

Usai Bunuh Ayah Kandung, Ngadimin Lukai Diri Sendiri dan Sempat Berobat ke Puskesmas

Regional
Asa Petani Karanganyar Menghadapi Kemarau Panjang

Asa Petani Karanganyar Menghadapi Kemarau Panjang

Regional
Perjalanan Kasus Oknum Satpol PP Bunuh IRT di Bone gegara Utang, Pelaku Divonis Penjara Seumur Hidup

Perjalanan Kasus Oknum Satpol PP Bunuh IRT di Bone gegara Utang, Pelaku Divonis Penjara Seumur Hidup

Regional
Terungkap, Temuan 9,5 Kg Sabu dan 9.000 Butir Pil Ekstasi di Bengkalis

Terungkap, Temuan 9,5 Kg Sabu dan 9.000 Butir Pil Ekstasi di Bengkalis

Regional
Tokoh Pendiri Provinsi Belitung Meninggal di Mekkah

Tokoh Pendiri Provinsi Belitung Meninggal di Mekkah

Regional
Pemprov Kepri: Calon Kepala Daerah Petahana Wajib Cuti 60 Hari

Pemprov Kepri: Calon Kepala Daerah Petahana Wajib Cuti 60 Hari

Regional
Polisi Bangka Barat Gagalkan Penyelundupan 4 Ton Timah Ilegal

Polisi Bangka Barat Gagalkan Penyelundupan 4 Ton Timah Ilegal

Regional
Sampah Menumpuk di Jalan, Bupati Pemalang Sebut Ada Pegawai DLH yang Lakukan Sabotase

Sampah Menumpuk di Jalan, Bupati Pemalang Sebut Ada Pegawai DLH yang Lakukan Sabotase

Regional
Terdesak Biaya Sekolah Anak, Pria 34 Tahun Maling di Rumah Tetangga

Terdesak Biaya Sekolah Anak, Pria 34 Tahun Maling di Rumah Tetangga

Regional
Melihat Pernikahan Adat Jawa di Candi Borobudur, Pengantin Dikirab Bregada Sebelum Ijab Kabul

Melihat Pernikahan Adat Jawa di Candi Borobudur, Pengantin Dikirab Bregada Sebelum Ijab Kabul

Regional
Gulo Puan, Kuliner Langka Kegemaran Bangsawan Palembang

Gulo Puan, Kuliner Langka Kegemaran Bangsawan Palembang

Regional
Pj Gubernur Banten Al Muktabar: Basis Satu Data Penting untuk Sukseskan Program Pemerintah

Pj Gubernur Banten Al Muktabar: Basis Satu Data Penting untuk Sukseskan Program Pemerintah

Regional
Kuras Sumur, Pria di Cilacap Tewas

Kuras Sumur, Pria di Cilacap Tewas

Regional
International Tour de Banyuwangi Kembali Digelar, Diikuti 20 Tim dari 9 Negara

International Tour de Banyuwangi Kembali Digelar, Diikuti 20 Tim dari 9 Negara

Regional
Tunggu Putusan Pengadilan, Pemkot Jambi Siapkan Anggaran untuk SDN 212

Tunggu Putusan Pengadilan, Pemkot Jambi Siapkan Anggaran untuk SDN 212

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com