Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 29/04/2023, 08:49 WIB
Rosyid A Azhar ,
Ardi Priyatno Utomo

Tim Redaksi

GORONTALO, KOMPAS.com – Usai sembahyang Dhuhur di Masjid Al-Maghfirah Desa Reksonegoro Kabupaten Gorontalo, Hasyim Wonopatih (74) mengenang leluhurnya seorang tokoh jawa yang mampu menangkap petir.

Leluhurnya adalah Ki Ageng Selo atau Kiyai Abdurrahman yang hidup di era Kerajaan Demak. Di usianya yang telah menua, Hasyim Wonopatih tidak menyiratkan lemah ingatan, bicaranya jelas dan mampu menuturkan kisah-kisah masa lalu para mbah-nya, yang dibuang Pemerintah Hindia Belanda di tanah Sulawesi.

Ia merasa bangga menjadi anak cucu Ki Ageng Selo melalui garis keturunan Kiyai Wonopatih seorang pengikut Kiai Modjo, salah satu dari 63 orang yang diasingkan Belanda ke Tondano, Minahasa setelah Perang Jawa (Perang Diponegoro) pada 1830 silam.

Baca juga: Tungku Kayu Tak Dimatikan Usai Rebus Ketupat, Dapur Warga di Blitar Hangus Terbakar

Sebagai tawanan perang yang diasingkan, para kombatan Perang Jawa ini kemudian membentuk keluarga baru saat menikahi para gadis Minahasa, terutam dari Tonsea Lama dan Tondano, Minahasa. Mereka beranak pinak hingga menurunkan masyarakat Jawa Tondano (Jaton) saat ini.

Dari orang-orang Jawa inilah, budaya bakdo kupat atau lebaran ketupat menyebar di Sulawesi. Para leluhur Jaton mewariskan tradisi ini setelah mereka menuntaskan puasa Syawal 6 hari yang dimulai dari tanggal 2 (hari raya idulfitri kedua) hingga tanggal 7 Syawal.

Lebaran ketupat itu digelar setelah kami melaksanakan puasa Syawal,” ujar Hasyim Wonopatih, Sabtu (29/4/2023) di lantai 2 rumah panggungnya yang lapang.

Hasyim Wonopatih menuturkan para leluhur Jaton ini sesungguhnya bukan orang biasa. Mereka adalah para pembesar dalam hirarki pasukan perang jawa. Pendapat Hasyim ini sesuai dengan laporan Huibert Gerard Baron Nahuys van Burgst, yang saat itu menjabat Residen Yogyakarta merangkap Surakarta.

Dalam catatan Nahuys van Burgst menyebutkan, lebih dari 60 laki-laki ini adalah hoofden atau kepala yang dipisahkan dari 400 orang tahanan lebih rendah di Surakarta. Dari 60-an orang tersebut, lebih dari setengah lusin menyandang gelar tumenggung, satu orang bergelar adipati, serta sejumlah basyah dan dullah, gelar kemiliteran yang diadopsi dari Kesultanan Ottoman di Turki. Sebagian besar diidentifikasi sebagai golongan putih atau yang berperilaku sangat islami.

Nahuys van Burgst juga mencatat ada 4 orang haji, lebih dari 35 orang ini bergelar Kiai, bahkan nama-nama kombatan perang Diponegoro yang dibuang di Minahasa ini memiliki nama Arab atau kombinasi Arab-Jawa. Semua ksatria Jawa ini dibawa paksa ke Manado tanpa didampingi istri setelah dikhianati Belanda.

Baca juga: Resep Opor Ayam dengan Tahu Khas Bogor, Sajikan dengan Ketupat

Kisah heroik Perang Jawa ini memang membuat warga Jaton bangga dengan leluhurnya, namun mereka juga bangga dengan proses akulturasi budaya Jawa dan Minahasa yang melahirkan tatanan sosial baru, budaya Jawa Tondano (Jaton) tanpa meninggalkan budaya asli.

Keluarga Hasyim Wonopatih bergiliran mengaduk jenang di belakang rumah. Membuat jejang menjelang hari raya ketupat merupakan kebiasaan warga Jawa Tondano (Jaton)KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR Keluarga Hasyim Wonopatih bergiliran mengaduk jenang di belakang rumah. Membuat jejang menjelang hari raya ketupat merupakan kebiasaan warga Jawa Tondano (Jaton)

“Kami masih merayakan bakdo kupat atau lebaran ketupat, kebiasaan yang diturunkan para mbah dari Jawa bersama istrinya wanita Minahasa,” ungkap Hasyim Wonopatih.

Masyarakat Jawa Tondano memaknai lebaran ketupat ini sebagai sarana untuk berkumpul dengan saudara, sanak famili yang telah lama tidak bertemu.

Seperti rangkaian anyaman ketupat, seperti itulah ikatan kekeluargaan masyarakat Jawa Tondano.

“Anyaman janur kelapa tang membentuk ketupat ini saling menguatkan dan kokoh, ini bermakna kami harus selalu menjaga silaturahmi, persaudaraan dan persatuan,” kata Muhammad Wonopatih sesepuh masyarakat Reksonegoro yang masih memiliki hubungan cucu basudara dengan Hasyim Wonopatih.

Lebaran ketupat merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul, bersuka cita sambil menikmati jamuan aneka makanan.

Baca juga: Lebaran Ketupat 2023 Tanggal Berapa? Ini Sejarah dan Maknanya

Sikap saling memperhatikan sebagai sesama keluarga tercermin dari nasihat orang tua, sikap ini tercermin dari nasihat leluhur masyarakat Jaton dari kebudayaan Minahasa, maesa-esaan atau saling bersatu, maleos-leosan atau saling mengasihi dan menyayangi, mangenang-genangan atau saling mengingat, malinga-lingaan atau saling mendengar, masawang-sawangan atau saling menolong, matombo-tombolan atau saling menopang.

Nilai tradisi ini menjadi inti pada tradisi pertemuan para anak-bangsa Jaton dalam hari raya ketupat, tradisi perjumpaan sanak saudara seperti rangkaian anyaman ketupat yang saling menguatkan membentuk ruang yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Tradisi inilah yang dikatakan Muhammad Kiyai Wonopatih sebagai sarana pemersatu sanak saudara yang datang dari jauh dan warga lainnya untuk datang bergembira. Sajian aneka menu ketupat menjadi alasan utama keluarag untuk saling melepas rindu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pakar Undip Sebut Karimunjawa Bakal Tenggelam jika Tambak Udang Dibiarkan

Pakar Undip Sebut Karimunjawa Bakal Tenggelam jika Tambak Udang Dibiarkan

Regional
Lantik Tiga Pj Bupati, Pj Gubernur Jateng Sampaikan Pesan Ini

Lantik Tiga Pj Bupati, Pj Gubernur Jateng Sampaikan Pesan Ini

Regional
Mengenal Tradisi Sekaten di Keraton Surakarta

Mengenal Tradisi Sekaten di Keraton Surakarta

Regional
Kapal Kargo Terbakar di Perairan Lampung, 26 Awak Dievakuasi

Kapal Kargo Terbakar di Perairan Lampung, 26 Awak Dievakuasi

Regional
Ayah Kandung di Lampung Timur Tega Cabuli Anak Saat Istri Pergi Belanja

Ayah Kandung di Lampung Timur Tega Cabuli Anak Saat Istri Pergi Belanja

Regional
Terjawabnya Teka-teki soal Sosok 'Mawar' di Video PSI, Ternyata Kaesang

Terjawabnya Teka-teki soal Sosok "Mawar" di Video PSI, Ternyata Kaesang

Regional
Sederet Fakta Kecelakaan Maut di Exit Tol Bawen Semarang, Kronologi, Penyebab dan Korban Jiwa

Sederet Fakta Kecelakaan Maut di Exit Tol Bawen Semarang, Kronologi, Penyebab dan Korban Jiwa

Regional
Hanung Resmi Jadi Pj Bupati Banyumas, Ini Profilnya

Hanung Resmi Jadi Pj Bupati Banyumas, Ini Profilnya

Regional
7 Calon Pekerja Migran Ilegal Diselamatkan Saat Hendak Diberangkatkan ke Malaysia via Batam

7 Calon Pekerja Migran Ilegal Diselamatkan Saat Hendak Diberangkatkan ke Malaysia via Batam

Regional
Mengaku Tak Suka Tempe, Jirayut Sebut Mendoan Khas Banyumas Rasanya Enak

Mengaku Tak Suka Tempe, Jirayut Sebut Mendoan Khas Banyumas Rasanya Enak

Regional
Viral, Video 2 Mobil Tangki Ugal-ugalan di Palembang, Pengemudinya Mengaku Iseng

Viral, Video 2 Mobil Tangki Ugal-ugalan di Palembang, Pengemudinya Mengaku Iseng

Regional
Lagi, Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru, Tiga Maskapai 'Delay'

Lagi, Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru, Tiga Maskapai "Delay"

Regional
Kesaksian Korban Kecelakaan Maut Bawen, Selamat Usai Merangkak Lewat Jendela Mobil yang Pecah

Kesaksian Korban Kecelakaan Maut Bawen, Selamat Usai Merangkak Lewat Jendela Mobil yang Pecah

Regional
Sekeluarga di Semarang Tabrak Kereta Api saat Hendak Beri Les Privat, Satu Tewas di Lokasi

Sekeluarga di Semarang Tabrak Kereta Api saat Hendak Beri Les Privat, Satu Tewas di Lokasi

Regional
Kaesang Disebut Sudah Gabung PSI sejak Sepekan Lalu

Kaesang Disebut Sudah Gabung PSI sejak Sepekan Lalu

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com