Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tarif Progresif KRL Per 1 Juni

Kompas.com - 20/05/2013, 03:31 WIB

Saat ini, penjualan tiket elektronik sepenuhnya sudah dilakukan untuk rute Stasiun Duri-Tangerang. Di rute lain, penjualan tiket elektronik dilakukan pada jam-jam tertentu yang bukan jam sibuk, seperti Jakarta Kota-Depok, jalur lingkar Jakarta, dan Tangerang-Duri.

Ketua Asosiasi Pengguna Kereta (Aspeka) Ahmad Safrudin mengatakan, kebijakan tarif progresif ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, dapat mengurangi ketidakadilan tarif KRL untuk jarak dekat seperti yang berlaku saat ini.

”Saat ini, orang yang menempuh jarak dekat harus membayar tarif yang hampir sama dengan penumpang KRL jarak jauh. Tarif untuk jarak dekat memang bisa saja lebih mahal daripada jarak jauh, tetapi angkanya tidak semahal sekarang,” katanya.

Di sisi lain, Ahmad berpendapat, operator seharusnya menghitung tarif berdasarkan kilometer penumpang, bukan per stasiun. Dengan begitu, tarif KRL bisa bersaing dengan moda angkutan perkotaan lain, seperti angkot. Data tentang perjalanan penumpang, menurut Ahmad, seharusnya bisa diperoleh dari data penumpang KRL saat ini.

Sterilisasi stasiun

Secara terpisah, Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Daop I Sukendar Mulya mengatakan, pihaknya masih mempersiapkan pintu elektronik dan sterilisasi stasiun sebelum pemberlakuan tiket elektronik. Pembongkaran kios di area stasiun masih terus dilakukan, hingga kemarin.

”Kami juga terus mendekati pedagang yang masih melakukan penolakan. Kami berharap mereka memahami alasan pembongkaran ini,” ujarnya.

Sterilisasi dibutuhkan karena area peron stasiun dikhususkan untuk penumpang yang akan naik KRL. Untuk masuk ke peron juga diperlukan tiket elektronik. Hal ini tidak memungkinkan bila masih ada kepentingan lain di area peron selain penumpang yang menunggu kereta di peron. Pembongkaran kios juga dilakukan untuk menyediakan lahan parkir untuk menampung kendaraan pribadi yang dibawa penumpang sebelum naik KRL.

Sukendar mencatat ada sejumlah stasiun yang belum bersih dari kios, seperti Stasiun Kranji yang masih menyisakan 57 kios. Dari jumlah itu, ada satu kios yang masih memiliki kontrak hingga 30 Juni.

Di Stasiun Duri, ada 77 kios yang masih berdiri. Dari jumlah itu, 70 di antaranya tidak memiliki kontrak dengan PT KAI. Meskipun demikian, Sukendar mengatakan, pihaknya akan terus mendekati pedagang yang tidak memiliki kontrak itu agar mereka bersedia pindah.

Adapun di Stasiun Universitas Indonesia, ada dua kios yang masih memiliki kontrak hingga 30 Juni. PT KAI, menurut Sukendar, akan membongkar kios setelah kontrak itu selesai. Total, ada 60 kios yang belum dibongkar di stasiun ini.

Pada hari Minggu, pembongkaran kios dilakukan di Stasiun Universitas Pancasila. Sehari sebelumnya, hari Sabtu, pembongkaran kios dilakukan di Stasiun Cawang. (ART)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com