Kompas.com - 12/05/2013, 12:07 WIB
|
EditorFarid Assifa

TIMIKA, KOMPAS.com - Sekitar 500 warga Kampung Banti, Distrik Tembagapura menyandera kepala Kepolisian Sektor Tembagapura AKP Sudirman dan wakil Kepala Polsek serta 3 personel polsek, Jumat (10/5/2013) lalu. Penyanderaan dilakukan karena polisi setempat dituding menganiaya salah seorang warga, Apolon Kobogau hingga tewas.

Kapolsek Tembagapura AKP Sudirman yang dihubungi melalui telepon selulernya Sabtu (11/5/2013) malam mengatakan, kejadian ini bermula saat kepolisian melakukan penyelidikan atas kematian Apolon Kobogau yang mayatnya ditemukan di Kali Kabur di Kampung Banti, Jumat pagi.

Menurut Sudirman, ratusan warga Kampung Banti yang menuduh polisi membunuh Apolon. Lalu Sudirman bersama sejumlah anak buahnya digiring warga ke rumah duka untuk dimintai pertanggungjawaban.

"Ratusan warga Banti yang emosi menggiring kami ke rumah duka. Karena jumlah mereka sangat banyak, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara daerah tersebut tidak ada sinyal. Mereka tidak melakukan kekerasan fisik kepada kami," jelasnya.

Warga menduga polisi yang menyebabkan Apolon Kobogau tewas. Sebab, pada hari sebelumnya, Yanuar Omaleng diamankan ke Mapolsek Tembagapura setelah ditangkap sekuriti PT Freeport Indonesia (PTFI) karena mabuk dan menghalang-halangi kendaraan di depan SD YPJ Banti. Belakangan diketahui bahwa sebelumnya Yanuar bersama Apolon berpesta miras sebelum tertangkap sekuriti.

Sudirman mengaku dibebaskan setelah pihaknya membujuk pihak keluarga korban untuk melakukan pembuktian dengan menemui anggota sekuriti PT. FI yang sebelumnya menangkap Yanuar Omaleng. Setelah meninggalkan rumah duka, menurut Sudirman, sempat terjadi keributan ketika ratusan warga Kampung Kimbeli yang membawa panah bergabung dengan warga Kampung Banti memblokade jembatan, akses menuju Kampung Banti.

Anggota TNI yang berada di Pos Banti bermaksud menenangkan suasana dengan melepaskan tembakan peringatan ke udara. Namun justru membuat warga menjadi marah dan merusak tiga kendaraan yang diparkir tidak jauh dari lokasi blokade.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akhirnya, lanjut Sudirman, pihaknya mempertemukan perwakilan warga Kampung Banti dengan sekuriti PT. FI dan Yanuar Omaleng di Mapolsek Tembagapura. Dalam pertemuan yang dipimpin Kapolres Mimika AKBP Jermias Rontini, warga menuntut uang duka dan pekerjaan. Salah satu tuntutan, yakni uang duka sudah disepakati. Warga pun bersedia menerima bantuan uang duka dari PT. FI.

Sementara tuntutan warga untuk dipekerjakan di perusahaan tetap harus melalui prosedur, namun akan dibantu kapolres. "Kesepakatan sudah tercapai dalam pertemuan tadi (Sabtu, red). Suasana di Kampung Banti juga sudah tenang. Ini kami baru saja mengevakuasi mobil yang dirusak, dan sejumlah warga Banti bahkan datang minta maaf kepada saya," kata Sudirman, Sabtu (11/5/2013) petang dalam perjalanan menuju Tembagapura dari Kampung Banti.

Rencananya, menurut Sudirman, pada hari Minggu (12/5/2013) akan dilakukan pemakaman jenazah Apolon Kobogau.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.