Pro-Kontra Qanun Bendera dan Lambang Aceh

Kompas.com - 30/03/2013, 06:54 WIB
|
EditorAna Shofiana Syatiri

BANDA ACEH, KOMPAS.com — Pengesahan qanun bendera dan lambang Aceh oleh DPR Aceh pada Jumat (22/3/2013) di Banda Aceh menuai pro dan kontra dari berbagai kelompok di Aceh. Yang pro sangat antusias menyambut pengesahan qanun. Mereka mengibarkan bendara dan berkonvoi keliling kota, sedangkan yang kontra menilai bendera separatis kembali berkibar di Aceh.

Taufik Abdullah, Kepala Laboratorium Politik FISIP Universitas Malikussaleh di Banda Aceh, menyebut pro-kontra tentang bendera dan lambang Aceh hal biasa dalam berdemokrasi. Menurutnya, pro-kontra terjadi karena adanya perbedaan cara pandang dalam mengartikulasikan pentas politik Aceh saat ini.

"Saya pikir pro-kontra lebih disebabkan adanya kekhawatiran Aceh akan kembali bergejolak. Kita berpikir positif sajalah. Saya menilai reaksi yang ada didorong oleh semangat ingin mewujudkan perdamaian Aceh lebih hakiki. Jadi, dalam konteks itu pro-kontra wajar saja terjadi," katanya, Jumat (29/3/2013).

Kendati begitu, Taufik mengingatkan agar semua pihak tidak lupa bahwa sejak ditandatangani MoU Helsinki, Aceh semakin terbuka dengan berbagai kemungkinan. Di sisi lain, Aceh menjadi wilayah dalam NKRI yang memiliki kesempatan yang besar untuk dapat mengembangkan demokrasi dan pembangunannya yang lebih baik.


"Hanya saja, keberlangsungannya sangat dinamis sehingga tidak mudah menyatukan Aceh sebagai satu identitas yang khusus dalam NKRI," ujarnya.

Taufik menilai, status Aceh sebagai daerah khusus masih sangat rentan munculnya berbagai kepentingan politik. Apa pun isu terkait implementasi MoU Helsinki ditanggapi beragam. Satu pihak berharap pengembangan demokrasi tidak kebablasan, tetapi ada semacam kekhawatiran pada akhirnya Aceh akan lepas dari NKRI. Di lain pihak berharap semua poin-poin nota kesepahaman itu berjalan sempurna dan seutuhnya agar Aceh benar-benar berdaya dalam bingkai NKRI.

Agar tidak melahirkan dusta sejarah kesekian kali, kata Taufik, para pemangku kepentingan perlu memperkuat komunikasi politik dengan intensif. Jika tersendatnya komunikasi politik di tingkat elite maka kecurigaan aparatur, baik TNI maupun Polri, di lapangan sangat beralasan.

Ekspresi masyarakat yang pro terhadap bendera Bulan Bintang dan lambang Singa Burak yang berpawai di beberapa wilayah Aceh, kata dia, tentu bisa diterjemahkan bermacam-macam sehingga prasangka tak dapat dihindari.

Soal ekspresi masyarakat yang mengibarkan bendera dan pawai dengan mengarak-bendera di jalan-jalan raya? "Itu wujud Aceh merdeka dalam NKRI," kata Taufik.

Menurutnya, bendera dan lambang Aceh dalam NKRI merupakan amanah MoU Helsinki dan juga cerminan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Dengan demikian, Aceh dalam NKRI sebagai wilayah khusus sudah merupakan keputusan final.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Warga Gunungkidul yang Tewas Terbakar Setelah Tabrak Kabel yang Menjuntai Hendak ke Pantai

    Warga Gunungkidul yang Tewas Terbakar Setelah Tabrak Kabel yang Menjuntai Hendak ke Pantai

    Regional
    Gibran: Yang Penting Pilkada Solo Dinamis, Meriah, dan Suka Cita

    Gibran: Yang Penting Pilkada Solo Dinamis, Meriah, dan Suka Cita

    Regional
    4 Warga di NTT Tersambar Petir, 2 Orang Tewas Seketika

    4 Warga di NTT Tersambar Petir, 2 Orang Tewas Seketika

    Regional
    Sistem Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bermasalah, Petugas Data Manual

    Sistem Imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bermasalah, Petugas Data Manual

    Regional
    Jatuh Cinta pada Cokelat, Priscilla Jual Cokelat Rasa Rendang, Kopi, dan Kelapa

    Jatuh Cinta pada Cokelat, Priscilla Jual Cokelat Rasa Rendang, Kopi, dan Kelapa

    Regional
    Dugaan Penyebab Remaja di Magetan Nekat Curi Motor Milik Ustaz

    Dugaan Penyebab Remaja di Magetan Nekat Curi Motor Milik Ustaz

    Regional
    Kendalikan Inflasi, Pemprov Jabar Siap Bangun Pusat Distribusi Kebutuhan Pokok

    Kendalikan Inflasi, Pemprov Jabar Siap Bangun Pusat Distribusi Kebutuhan Pokok

    Regional
    Diusung PDI-P, Tomy Yakin Menang di Pilkada Bulukumba, Kini Kumpulkan Dukungan Partai Lain

    Diusung PDI-P, Tomy Yakin Menang di Pilkada Bulukumba, Kini Kumpulkan Dukungan Partai Lain

    Regional
    Presiden Jokowi Berpesan kepada Kapolda Maluku yang Baru

    Presiden Jokowi Berpesan kepada Kapolda Maluku yang Baru

    Regional
    Ada Tugas Lain, Rektor Unnes Tak Hadiri Debat dengan Dosen yang Diduga Hina Jokowi

    Ada Tugas Lain, Rektor Unnes Tak Hadiri Debat dengan Dosen yang Diduga Hina Jokowi

    Regional
    Gelar Pilkada, KPU Kabupaten Mojokerto Dibekali Anggaran Rp 52 Miliar

    Gelar Pilkada, KPU Kabupaten Mojokerto Dibekali Anggaran Rp 52 Miliar

    Regional
    Kejati Babel Telusuri Kredit BRI Rp 39 Miliar yang Diduga Bermasalah

    Kejati Babel Telusuri Kredit BRI Rp 39 Miliar yang Diduga Bermasalah

    Regional
    Perampokan dan Penyekapan di Toko Tesktil di Prabumulih Ternyata Rekayasa ART

    Perampokan dan Penyekapan di Toko Tesktil di Prabumulih Ternyata Rekayasa ART

    Regional
    Senjata TNI Korban Helikopter MI-17 Belum Ditemukan, Polda Papua Minta Masyarakat Tak Sepelekan Imbauan

    Senjata TNI Korban Helikopter MI-17 Belum Ditemukan, Polda Papua Minta Masyarakat Tak Sepelekan Imbauan

    Regional
    Turis China yang Bertahan di Bali Tinggal 600 Orang

    Turis China yang Bertahan di Bali Tinggal 600 Orang

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X