Kompas.com - 25/09/2012, 13:34 WIB
|
EditorFarid Assifa

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Dugaan adanya praktik jual beli sertifikat orientasi pendidikan (Ordik) di kampus Universitas Madura (Unira ) Pamekasan, Jawa Timur, menuai protes dari kalangan aktivis kampus. Pasalnya, praktik jual beli sertifikat itu dianggap mendidik mahasiswa baru untuk hidup dalam situasi yang tidak akademis.

Selasa (25/9/2012), puluhan mahasiswa Unira ini menggelar unjuk rasa di depan kantor rektorat kampus Unira. Ujuk rasa mahasiswa diawali dari depan pintu masuk kampus dengan membakar ban mobil bekas sambil membentangkan poster dan spanduk berisi kecaman terhadap praktik jual beli sertifikat yang dilakukan oleh oknum organisasi kemahasiswaan Unira. Selain itu, mahasiswa juga meminta pihak rektorat tidak membiarkan praktik tersebut berlanjut karena sudah menciderai Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Kalau pihak rektorat membiarkan praktik tersebut, sama saja mereka terlibat dalam praktik busuk itu," kata Fery Hermawan, koordinator aksi.

Dijelaskan Hermawan, mahasiswa baru di Unira pada tahun ajaran baru ini berjumlah 1.063 orang. Namun yang ikut orientasi hanya separuhnya saja. Namun mahasiswa yang tidak ikut dengan leluasa bisa membeli sertifikat kepada panitia.

"Mahasiswa baru dididik dengan prkatik jual beli. Satu lembar sertifikat dijual Rp 200 ribu oleh panitia, dan uang itu untuk memperkaya diri sendiri. Padahal dana orientasi sudah disediakan puluhan juta rupiah," imbuh Hermawan.

Untuk klarifikasi atas persoalan tersebut, massa melakukan sweeping gedung rektorat di lantai tiga. Mahasiswa mencoba masuk ke gedung rektorat, namun tidak satupun di antara jajaran rektor berada di dalam kantor.

"Jam efektif seperti saat ini tidak ada satupun rektor yang duduk di meja tugasnya. Ini artinya mereka hanya memakan gaji dan tidak bertanggungjawab menjalankan tugasnya sebagai pimpinan sekaligus menjadi tuntunan bagi mahasiswa," ungkapnya.

Karena kesal, mahasiswa mencoba memasang poster di dalam kantor rektorat. Namun upaya mereka dihalangi oleh keamanan kampus.

"Kalian ini jangan sampai merusak fasilitas yang ada di kantor ini atau kalian saya usir dari ruangan ini," ancam keamanan kampus.

Tidak cukup di situ, mahasiswa akhirnya menempel beberapa poster di tembok kantor sebagai bentuk kekecewaan terhadap rektor yang tidak menemuinya.

"Kami kecewa karena kami mau klarifikasi, tetapi tidak ada satupun yang menemui kami. Kami akan demo dengan aksi yang lebih ekstrem lagi dari hari ini," pungkas Hermawan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.