Bukit Barisan, Tulang Belakang Sumatera

Kompas.com - 08/05/2012, 23:27 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Berderet memanjang dari Lampung sampai Aceh, Bukit Barisan seolah menjadi tulang punggung Sumatera dan membagi pulau menjadi dua. Sisi pantai timur yang lebih luas dan landai serta sisi pantai barat yang sempit dan terjal.

Disebut Bukit Barisan barangkali karena jejeran pegunungannya sambung-menyambung, memanjang sejajar Pulau Sumatera sepanjang lebih kurang 1.650 km. Adapun disebut ”bukit” dan bukan ”gunung” karena dalam terminologi Melayu lama kedua nama ini sebenarnya identik.

John Crawfurd dalam bukunya, A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries (1856), menyebutkan, bukit dalam bahasa Melayu sama artinya dengan gunung dalam bahasa Jawa. Kedua istilah ini sering digunakan untuk menunjukkan nama tempat yang tinggi.

Sebagai tulang punggung Sumatera, Bukit Barisan berperan penting sebagai sumber air dari semua sungai besar di pulau ini. Sungai-sungai yang bermuara di pantai barat (Samudra Hindia), seperti Alas dan Batangtoru, ataupun yang bermuara di pantai timur (Selat Malaka), seperti Indragiri, Batanghari, dan Musi, berhulu di Bukit Barisan.

Sejak tahun 1940-an, geolog Belanda, Van Bemmelen, mulai meneliti keunikan bentang alam di kawasan ini. Dia kemudian menuliskan hasil pengamatannya dalam bukunya, The Geology of Indonesia, yang diterbitkan tahun 1949. Setelah itu banyak peneliti asing dan Indonesia yang menyusuri Bukit Barisan untuk menelisiknya, salah satunya geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), JF Katili, yang meneliti kawasan ini sekitar tahun 1960-an.

Katili menemukan banyak sedimen fosil kerang laut di sepanjang zona Bukit Barisan. Temuan ini menunjukkan bahwa pegunungan ini tumbuh dari dasar laut akibat penunjaman Lempeng (Samudra) Hindia-Australia ke bawah Pulau Sumatera yang berada di Lempeng (Benua) Eurasia.

Ahli gempa dari LIPI, Danny Hilman, mengatakan, penunjaman ini menjadi biang terjadinya gempa di sepanjang zona penunjaman (subduksi). Sampai kedalaman 40 kilometer di zona penunjaman, batas kedua lempeng ini terekat erat. Dorongan tiada henti dari Lempeng Hindia-Australia menumpuk energi potensial regangan pada bidang kontak yang merekat erat itu, dan suatu saat akan terlepas tiba-tiba sehingga menyebabkan gempa.

Di kedalaman antara 150 dan 200 kilometer, temperatur Bumi sangat panas sehingga batuan di sekitar zona kontak dua lempeng ini meleleh. Sesuai dengan sifat fluida, lelehan batuan panas ini naik ke atas membentuk kantung-kantung bubur batuan panas yang kita kenal sebagai kantung magma.

Pada akhirnya magma ini mendesak ke atas permukaan membentuk deretan kubah magma atau gunung api. Salah satu gunung api itu merupakan yang tertinggi di Nusantara, yaitu Gunung Kerinci di Jambi yang berketinggian sekitar 3.805 meter.

Saat ini gunung-gunung di Sumatera tidak seaktif gunung api di Jawa. Namun, beberapa gunung api di sepanjang zona ini pernah menyimpan riwayat mengerikan.

Misalnya, Gunung Api ”Raksasa” Toba atau Toba Supervolcano di Sumatera Utara yang letusannya sekitar 74.000 tahun lalu nyaris memusnahkan manusia di muka Bumi. Letusan Maninjau di Sumatera Barat sekitar 60.000 tahun juga sangat dahsyat sehingga membentuk danau kaldera seluas 99,5 kilometer persegi.

Artikel lebih lengkap ikuti Ekspedisi Cincin Api Kompas di http://www.cincinapi.com

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

    Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

    Regional
    APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

    APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

    Regional
    Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

    Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

    Regional
    Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

    Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

    Regional
    Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

    Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

    Regional
    Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

    Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

    Regional
    Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

    Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

    Regional
    Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

    Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

    Regional
    Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

    Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

    Regional
    Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

    Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

    Regional
    Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

    Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

    Regional
    Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

    Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

    Regional
    8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

    8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

    Regional
    Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

    Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

    Regional
    Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

    Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X