Belum Bayar PBB, Jatah Raskin Ditahan

Kompas.com - 11/05/2011, 13:47 WIB
EditorA. Wisnubrata

PINRANG, KOMPAS.com — Ratusan warga miskin dari tiga dusun di Desa Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, harus gigit jari. Pasalnya, beras untuk mereka disandera dan tidak dibagikan oleh kepala desa.

Penyanderaan beras untuk warga miskin (raskin) tersebut terjadi lantaran mereka belum melunasi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). "Raskin warga tidak dibagikan, dengan alasan masih banyak warga yang belum melunasi iuran PBB-nya. Tidak tahu, apakah antara raskin dan PBB ada kaitannya," kata Pung, warga setempat, kepada Kompas.com, Selasa (10/5/2011).

Warga menyesalkan pemerintah desa yang menahan raskin hingga lima bulan lamanya. Padahal, kata mereka, jatuh tempo pembayaran PBB untuk priode tahun ini masih menyisakan waktu beberapa bulan lagi.

Warga menilai, alasan pemerintah desa terlalu mengada-ada dan hanya menambah keprihatinan warga setempat, yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan buruh tali tambang.


"Warga di sini kerjanya hanya melaut. Hasil menjadi nelayan belum bisa menjamin kebutuhan hidup mereka, sudah direpotkan dengan PBB. Padahal, warga juga tidak pernah mangkir dari PBB, cuma memang agak lambat bayarnya, tapi juga tidak pernah menunggak," kata Pung lagi.

Himma, warga Ujung Lero, mengharapkan kebijakan pihak pemerintah desa setempat untuk lebih mengedepankan kebutuhan warga. Himma mengatakan, dengan menahan beras warga miskin yang belum melunasi PBB-nya, hal itu justru menimbulkan kejengkelan warga.

"Kami tahu 'Pak Desa' mengejar prestasi menjadi desa tercepat mencapai target iuran PBB. Tapi, jangan karena kejar prestasi, kami ikut dirugikan. Toh, masa jatuh tempo pembayaran PBB masih panjang. Kami butuh waktu untuk mengumpulkan uang guna melunasinya," paparnya dengan nada jengkel.

Kepala Desa Ujung Lero Sudirman Ibrahim ketika dihubungi Kompas.com melalui telepon selulernya, Selasa (10/5/2011), tidak berhasil dikonfirmasi. Orang yang menerima telepon mengatakan, ponsel sang kepala desa ketinggalan. "Handphone-nya ketinggalan," katanya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X