2 Jam, 32 Pengemis Ditangkap

Kompas.com - 25/08/2010, 20:49 WIB
EditorErlangga Djumena

BOGOR, KOMPAS.com — Aparat Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bogor menangkap 32 pengemis, anak jalanan, dan pengamen jalanan dalam waktu dua jam, Rabu (25/8/2010) sore. Sebagian besar adalah warga Ciheleut yang kerap tertangkap aparat.

Kepala Satpol PP Kota Bogor Yan Yan Rusmana mengatakan, para pengemis tersebut warga Ciheleut yang memang sehari-hari mencari nafkah dengan mengemis. "Dari saya belum jadi pegawai negeri, ibu-ibu ini sudah mengemis. Penghasilan mereka sehari bisa sampai Rp 250.000. Kalau cuma dapat Rp 100.000, mereka bilang lagi sepi," tuturnya.

Empat perempuan berusia lanjut yang ditunjuknya tertawa tersipu-sipu. "Saya sudah 20 tahun lebih jadi pengemis. Asal saya dari Indramayu." kata Markasem, yang diperkirakan berusia sekitar 60 tahun. Saritem juga mengaku hal yang sama.

Beberapa petugas yang jengkel lalu menakut-nakuti para pengemis itu, yakni dengan mengatakan akan membuang mereka ke laut. Namun, para pengemis itu cuek bebek dan malah ada yang menjawab, paling hanya dikirim ke dinas sosial lalu boleh pulang lagi.

Namun, ketika Yan Yan dengan setengah marah mengatakan, aparatnya pasti akan membuang mereka ke laut kalau mereka tertangkap lagi saat mengemis, para pengemis itu terdiam. "Iya, Pak, saya dan rombongan janji tidak akan mengemis lagi dan mau pulang ke Indramayu." kata Saritem yang giginya sudah banyak tanggal.

Sementara itu, Iyas (28) dan ibunya yang buta mengatakan, keduanya akan tetap mengemis. "Susah cari kerjaan," katanya. Iyas diam saja ketika petugas mengatakan, adalah dosa memanfaatkan ibunya yang buta untuk mengemis.

Di antara mereka yang ditangkap ada yang membawa telepon seluler. Dua anak dari seorang perempuan pengemis datang ke kantor Satpol PP setelah ditelepon seorang anak jalanan. Anak pengemis itu, yang datang dengan membawa telepon selulernya dan mengendarai motor, mengatakan bahwa ibunya sudah dua kali kena razia. "Saya enggak tahu dia minta-minta, bilangnya sama saya mau ke pasar," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tiga puluh dua orang yang kena razia itu, sebanyak 10 di antaranya anak-anak, kemudian diangkut dengan truk dinas Satpol PP ke kantor dinas sosial di Jalan Merdeka.

Sekitar 10 menit truk itu berlalu, tiga remaja dan seorang ibu-ibu datang. Mereka ternyata pengamen jalanan dan pengemis yang ditangkap aparat pada razia hari Selasa. Tiga remaja tersebut ingin menebus gitar mereka yang disita aparat kemarin.

"Kami baru dilepas dinsos pukul tiga sore. Kami pulang ke rumah dulu untuk mandi, baru ke sini, mau nebus gitar. Kami kena razia karena ngamen di lampu merah. Kalau ngamen di dalam angkot yang jalan, boleh, " kata Dani, seorang pengamen itu.

Adapun ibu yang berboncengan motor dengan anaknya datang untuk bertemu dengan pengemis grupnya yang tertangkap siang tadi. "Oh, sudah dibawa ke dinsos, ya. saya juga baru keluar dari situ siang ini," katanya.

Seorang wartawan yang meliput penangkapan ibu tersebut terbengong-bengong melihat penampilan ibu tersebut. "Itu pengemis yang kemarin tertangkap. Kalau kemarin saya tidak lihat, tidak percaya saya kalau ibu itu pengemis," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.