Upacara Melukat di Pura Tirta Empul

Kompas.com - 27/06/2010, 10:30 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

DENPASAR, KOMPAS.com — Sabtu (26/6/2010) kemarin, ribuan warga Bali yang beragama Hindu menjalani Upacara Melukat di Pura Tirta Empul dan permandiannya, di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali.

Makna ritual adalah perlambang pembersihan manusia dari hal negatif. Air adalah media untuk membersihkan diri. Maka, ribuan warga menceburkan diri di kolam, kemudian membasuh dengan air dari mata air Tirta Empul.

Sekitar 25 orang peserta International Training on Integrated Water Resources Management (IWRM Training), yang mempelajari secara mendalam pengelolaan air, menyaksikan upacara yang sangat menarik perhatian peserta training.

IWRM Training tersebut diinisiasi oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, didanai oleh Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA) bekerja sama dengan Stockholm International Water Institute dan lembaga konsultan RAMBOLL.

Kepala Subdirektorat Air Baku, Irigasi, dan Rawa Bappenas Mohammad Zainal Fatah menjelaskan, Tirta Empul mengajarkan bahwa pengonservasian air dapat  dibantu hal-hal religi. "Karena masyarakat percaya bahwa mata air termasuk airnya sangat suci, maka mereka lebih menjaganya," ujar dia.

Sementara Claus Pedersen dari RAMBOLL menyatakan, konservasi air dan manajemen air dalam kerangka yang lebih luas, sebaiknya lebih didasarkan pada scientific atau keilmuan. "Namun, dia mengakui, Upacara Melukat di Pura Tirta Empul telah memberinya wawasan yang lebih luas tentang pengelolaan air. Luar biasa, devosi mereka terhadap air," ujar Claus.

Tirta Empul

Dari situs Parisada diketahui, permandian Tirta Empul dibangun pada Sasih Kapal tahun Icaka 884, atau sekitar Oktober tahun 962 Masehi. Ini merupakan hasil kajian dari Ktut Soebandi dalam buku Sejarah Pembangunan Pura-Pura di Bali.

Waktu pembangunan permandian Tirta Empul itu diketahui dari sebuah piagam batu yang ditemukan di Desa Manukaya. Dengan demikian, Permandian Tirta Empul dibangun pada zaman pemerintahan Raja Sri Candrabhaya Singha Warmadewa.

Sementara Pura Tirta Empul dibangun pada zaman Raja Masula Masuli berkuasa dan memerintah. Hal ini tertulis dalam lontar Usana Bali, berbunyi, "Tatkala itu senang hatinya orang Bali semua, dipimpin oleh Baginda Raja Masula Masuli, dan rakyat seluruhnya merasa gembira, semua rakyat sama-sama mengeluarkan padas, serta bahan bangunan lainnya, seperti dari Blahbatuh, Pejeng, Tampaksiring."

Kapan Raja Masula Masuli bertakhta? Dalam prasasti Sading disebutkan, mulai dari tahun Icaka 1100 atau tahun 1178 Masehi. Berarti ada perbedaan waktu sekitar 216 tahun antara pembangunan permandian Tirta Empul dan pembangunan puranya.

Permandian dan Pura Tirta Empul berada tepat di bawah Istana Kepresidenan Tampak Siring, yang dibangun secara permanen sejak tahun 1957-1963 atas prakarsa Presiden Soekarno. Istana itu direnovasi pada tahun 2003 dengan penambahan beberapa fasilitas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.