Nelson, Penjaga Naskah Batak

Kompas.com - 11/06/2010, 19:48 WIB
EditorMarcus Suprihadi

Oleh Khaerudin

KOMPAS.com- Nelson Lumban Toruan tampak gamang saat menuturkan bahwa ribuan naskah Batak menjadi koleksi museum di sejumlah negara Eropa. Kegamangan itu bertambah saat ia melihat banyak naskah Batak yang dijual ke Malaysia.

Niat negara jiran menjadi pusat tamadun kebudayaan Melayu membuat berbagai naskah Batak jadi incaran. Ia langsung kelu saat menceritakan nasib naskah Batak yang teronggok berdebu di negerinya sendiri.

Sebagai pemuda kampung yang lahir di Desa Nagasaribu, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Humbang Hasundutan, 500 kilometer dari Medan, Nelson meneguhkan cita-cita menjadi batakolog, saat diterima di Jurusan Sastra Batak, Universitas Sumatera Utara, tahun 1987.

Pucuk dicita ulam pun tiba, mungkin pepatah itu tepat menggambarkan pertemuan Nelson di kampus dengan dosennya, ahli linguistik Batak asal Jerman, Profesor Uli Kozok. Dua tahun kuliah (1987–1989), ia diajak Kozok melakukan serangkaian penelitian soal sastra Batak. Memang penelitian itu dimanfaatkan Uli untuk desertasi doktoralnya di Universitas Hamburg.

Uli adalah orang pertama di dunia yang membuat aksara Batak dan berbagai versinya (Toba, Mandailing, Karo, Pakpak, dan Simalungun) dalam perangkat lunak (software) komputer. Perangkat lunak ini mentransliterasi aksara Batak ke aksara Latin. Dengan program komputer itu, kita bisa mengetik aksara Batak di komputer yang menggunakan papan ketik beraksara Latin.

Nelson menuturkan, aksara Batak yang dikenal kini sudah berlainan variasinya. Variasi pertama aksara Batak adalah yang ditulis di berbagai naskah. Jika ditulis pada kulit kayu, dikenal sebagai pustaha (pustaka) atau laklak. Naskah lain ditulis di tulang, biasanya tulang kerbau dan bambu.

Tak pernah ada yang tahu pasti kapan pertama kali naskah Batak ditulis. ”Sebagai gambaran, sejak tahun 1700-an, British Museum sudah memiliki koleksi naskah Batak. Itu pun tak diketahui kapan naskah itu dibuat,” kata Nelson.

Masuknya misionaris, baik dari Jerman maupun Belanda, ke Tanah Batak pada pertengahan abad ke-18 membuat varian asli aksara Batak berubah. ”Misionaris kesulitan karena ada banyak versi aksara Batak, ada Mandailing, Toba, Karo, Simalungun, dan Pakpak. Untuk mempermudah pekerjaan, misionaris lalu membuat variasi sendiri yang berbeda dari aksara aslinya, seperti tertulis di naskah Batak. Paling tidak karena ada misionaris Jerman dan Belanda, berarti ada dua variasi baru yang beda dengan aslinya,” kata Nelson.

Inilah yang membuat orang tua Batak, meski bisa membaca aksara Batak, belum tentu dapat membaca naskah Batak. Kata dia, Kozok-lah yang membuat standar umum bagi mereka yang ingin belajar aksara Batak varian aslinya. ”Dia belajar dari banyak naskah Batak di berbagai museum Eropa. Makanya, kita tak bisa menguasai naskah Batak, tanpa tahu bahasa Jerman atau Belanda,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.