Lima Abad Semana Santa Larantuka - Kompas.com

Lima Abad Semana Santa Larantuka

Kompas.com - 03/04/2010, 04:23 WIB

Samuel Oktora dan Kornelis Kewa Ama

Jumat (2/4), hari masih pagi. Namun, umat Katolik di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, dan sekitarnya sudah datang berbondongbondong ke Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana untuk mencium patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana (Yesus Kristus).

Siang harinya, umat juga berbondong-bondong mengantar Tuan Tido (patung Yesus wafat disalib) melalui laut dari Kapela Tuan Meninu ke Pantai Kuce di Pohon Sirih dalam prosesi Semana Santa.

Uskup Larantuka Monsinyur Fransiskus Kopong Kung Pr untuk pertama kalinya dalam sejarah ikut mengantar patung Tuan Tido lewat prosesi laut itu. Sebelumnya, pengantaran dilakukan, antara lain, oleh tua-tua suku setempat bersama bupati.

Jumat siang, sekitar pukul 14.00 Wita, umat mengantar Tuan Ma dan Tuan Ana ke Gereja Katedral, dilanjutkan dengan misa wafatnya Isa Almasih, pukul 15.00. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro hadir dalam misa tersebut.

Malam hari sekitar pukul 20.15, puluhan ribu umat dalam suasana hening dan khusyuk dihiasi cahaya lilin yang menerangi gelap malam berjalan mengelilingi kota. Arak-arakan dimulai dari Gereja Katedral, berkeliling, lalu kembali ke Gereja Katedral dan berakhir dini hari.

Malam itu umat beriringan di belakang sebuah peti yang berisi patung jenazah Yesus, disusul patung Tuan Ma, dilengkapi sejumlah salib dan patung-patung yang semuanya peninggalan Portugis sekitar lima abad lalu. Bagi orang Nagi, julukan orang Larantuka, Semana Santa merupakan hari yang penuh rahmat (hari bae).

Peziarah dari luar Nusa Tenggara Timur (NTT), bahkan luar negeri, juga berdatangan ke Larantuka untuk mengikuti devosi Bunda Maria ini. Apalagi tahun ini bertepatan dengan perayaan lima abad Tuan Ma.

Asal-usul

Kepercayaan terhadap Tuan Ma berawal lima abad silam. Berdasarkan penelitian dan sejumlah sumber tertulis dalam bahasa Belanda dan Portugis, patung Tuan Ma ditemukan sekitar tahun 1510 di Pantai Larantuka. Diduga, patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.

Konon, saat itu seorang anak laki-laki bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan saat mencari siput di Pantai Larantuka.

Resiona mengaku, kala itu dia melihat perempuan cantik dan, ketika ditanya nama serta dari mana datangnya, perempuan tersebut hanya menunduk lalu menulis tiga kata yang tak dipahami Resiona di pasir pantai. Setelah itu, ketika mengangkat mukanya, rupa wanita itu berubah menjadi patung kayu.

Ketiga kata yang ditulis itu lalu dibuatkan pagar batu agar tidak terhapus air laut, sedangkan patung setinggi tiga meter tersebut langsung diarak keliling kampung, memasuki korke, rumah-rumah pemujaan milik setiap suku di sana.

Kendati waktu itu masyarakat setempat belum mengenal patung tersebut, kepala kampung Lewonama, Larantuka, memerintahkan agar patung disimpan di korke. Patung kemudian dihormati sebagai benda keramat. Penduduk memberi sesaji setiap perayaan panen.

Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harfiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama. Masyarakat Lamaholot menyebutnya, Rera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Menurut Raja Larantuka Don Andreas Martinho DVG, sekitar tahun 1510 itu masyarakat Larantuka sudah melakukan devosi kepada Tuan Ma setiap Februari, sebagai syukur atas hasil panen dan tangkapan dari laut. Devosi merupakan kegiatan di luar liturgi gereja, praktik-praktik rohani yang merupakan ekspresi konkret keinginan melayani dan menyembah Tuhan melalui obyek-obyek tertentu.

Ketika padri dari Ordo Dominikan datang ke kampung itu lalu diminta membaca tiga kata yang ”diabadikan” itu, terbaca: Reinha Rosario Maria.

Ketika melihat patungnya, padri itu terharu dan berkata bahwa itulah Reinha Rosari yang dikenal juga sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

Sekitar tahun 1561, penyebaran agama Katolik oleh Portugis dimulai di Pulau Solor, yang kemudian dikenal misi Solor dengan menetapnya tiga misionaris, yaitu Pater Antonio da Cruz OP, Simao das Chagas OP, dan Bruder Alexio OP, di sana.

Tahun 1617, misionaris Portugis Pastor Manuel de Kagas berhasil memberi masukan pemahaman kepada raja-raja Larantuka. Dia menjelaskan, ”Tuan Ma yang disembah itu sebenarnya bernama Bunda Maria. Dia yang memiliki putra yang disebut Yesus Kristus. Yesus ini sebagai penebus dosa dan pembawa keselamatan”. Sejak itulah orang Larantuka yakin apa yang mereka sembah selama itu ternyata diakui secara universal.

Tahun 1650, Raja I Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan Kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria. Setelah itu, putranya, Raja Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Maria keliling Larantuka.

Dalam perkembangannya, Raja Don Lorenzo I bersumpah kepada Maria atau Tuan Ma dengan memberi gelar tertinggi kepada Maria sebagai raja orang Larantuka.

Oleh karena itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria. Tuan Ma kemudian diyakini sebagai Bunda Maria milik orang Larantuka. Devosi kepada Maria menjadi sentral hidup keluarga dan masyarakat Larantuka. Per Mariam ad Jesum, melalui Maria kita sampai kepada Yesus.

Proses inkulturasi pun terjadi antara kepercayaan masyarakat lokal, ajaran gereja, dan tradisi yang dibawa Portugis.


Editor

Terkini Lainnya

Kisah Tentara Jepang yang Bersembunyi di Hutan Selama 28 tahun

Kisah Tentara Jepang yang Bersembunyi di Hutan Selama 28 tahun

Internasional
Tim Kampanye Nasional Wakili Jokowi Penuhi Panggilan Bawaslu DKI

Tim Kampanye Nasional Wakili Jokowi Penuhi Panggilan Bawaslu DKI

Megapolitan
5 Fakta Tim Inspektorat Jatim Datangi Wabup Trenggalek, Irit Bicara hingga Tolak Beri Keterangan

5 Fakta Tim Inspektorat Jatim Datangi Wabup Trenggalek, Irit Bicara hingga Tolak Beri Keterangan

Regional
Jokowi Dilaporkan ke Bawaslu karena Diduga Menghina Prabowo

Jokowi Dilaporkan ke Bawaslu karena Diduga Menghina Prabowo

Nasional
Pihak Fahri Hamzah Ancam Ajukan Penyitaan Aset PKS

Pihak Fahri Hamzah Ancam Ajukan Penyitaan Aset PKS

Nasional
China Tahan Warga Australia atas Tuduhan Ganggu Keamanan Nasional

China Tahan Warga Australia atas Tuduhan Ganggu Keamanan Nasional

Internasional
KPK Disarankan Umumkan Nama Anggota DPR yang Belum Lapor LHKPN

KPK Disarankan Umumkan Nama Anggota DPR yang Belum Lapor LHKPN

Nasional
Temui Kedua Kubu di Pilpres, Dubes Uni Eropa Tegaskan Pihaknya Netral

Temui Kedua Kubu di Pilpres, Dubes Uni Eropa Tegaskan Pihaknya Netral

Nasional
Mantan Gangster asal Korsel Tewas Ditembak di Gedung Karaoke di Tokyo

Mantan Gangster asal Korsel Tewas Ditembak di Gedung Karaoke di Tokyo

Internasional
Gunung Papandayan Jadi TWA, Ridwan Kamil Segera Gelar Rapat

Gunung Papandayan Jadi TWA, Ridwan Kamil Segera Gelar Rapat

Regional
Sekda DKI Sebut Izin Food Street di Pulau Reklamasi Bisa Sambil Jalan

Sekda DKI Sebut Izin Food Street di Pulau Reklamasi Bisa Sambil Jalan

Megapolitan
Diperiksa KPK, Menpora Mengaku Ditanya Tupoksi dan Mekanisme Pengajuan Dana Hibah

Diperiksa KPK, Menpora Mengaku Ditanya Tupoksi dan Mekanisme Pengajuan Dana Hibah

Nasional
Korban Bertambah, Anjing Pelacak Dikerahkan ke Lokasi Longsor Gowa

Korban Bertambah, Anjing Pelacak Dikerahkan ke Lokasi Longsor Gowa

Regional
Menteri LHK Tegaskan Gubernur NTT Tak Bisa Langsung Tutup TN Komodo

Menteri LHK Tegaskan Gubernur NTT Tak Bisa Langsung Tutup TN Komodo

Nasional
Pemprov DKI Akan Bina Pedagang UMKM di Food Street Pulau Reklamasi

Pemprov DKI Akan Bina Pedagang UMKM di Food Street Pulau Reklamasi

Megapolitan

Close Ads X