KA Barang Kurangi Beban Jalan

Kompas.com - 27/05/2009, 23:43 WIB
Editor

BANDUNG, KOMPAS.com - Optimalisasi penggunaan kereta api (KA) barang merupakan salah satu solusi  mengurangi kasus  kelebihan tonase di jalan raya yang selama ini mempercepat kerusakan infrastruktur jalan.
   
"Pemerintah tak perlu mengeluarkan anggaran yang besar setiap tahun hanya untuk memperbaiki jalan raya yang rusak akibat akibat banyaknya angkutan yang kelebihan tonase," kata Koordinator International Transwokers Federation (ITF) untuk Indonesia, Hanafi Rustandi di sela-sela Pelatihan Pengurus SPKA di Bandung, Rabu (27/5).
    
Berdasarkan UU Lalu Lintas, tonase angkutan barang yang bisa melintas di jalan raya tidak boleh lebih dari 35 ton. Seharusnya angkutan barang dengan kapasitas dan tonase di atas 35 ton diangkut dengan menggunakan KA.
    
Namun kenyataan yang ada saat ini, kata dia, pelanggaran tonase di jalan raya masih terjadi. Bahkan  para pelaku pelanggaran lebih memilih membayar denda. "Padahal kereta api mempunyai prasarana yang memadai untuk angkutan barang. Sejak dulu KA punya sejarah sebagai angkutan barang, kok belakangan ditinggalkan. Jelas itu harus menjadi perhatian semua pihak," katanya.
     
Kehadiran terminal angkutan barang atau peti kemas di beberapa kota sangat mendukung, namun pemanfaatannya kurang optimal. Angkutan barang saat ini lebih banyak menggunakan truk trailer yang potensial terjadi kelebihan tonase.
     
"Saya lihat di Terminal Peti Kemas Gedebage, yang sibuk truk trailer. Tapi ada harapan dengan dibukanya Stasiun Tanjung Priok bisa mendongkrak angkutan barang itu," katanya.
     
Koordinator ITF itu  mengatakan, Indonesia dapat meniru negara lain yang sektor transportasinya maju karena fokus kepada pengembangan perkeretaapian, termasuk mengoptimalkan angkutan barang dengan KA.
     
Pendapat sama diungkapkan oleh Sekjen Serikat Pekerja Kereta Api (SPKA) Huzani yang menyebutkan PTKA memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk angkuan barang.  "Banyak sarana angkutan barang yang tidak beroperasi maksimal. Padahal kami memiliki prasarana untuk angkutan barang dan sangat siap," kata Huzani.
     
Menurut Huzani, salah satu tidap optimalnya fasilitas itu tidak terlepas dari inkonsistensi pemerintah dalam menerapkan aturan lalu lintas.
     
Bila aturan diberlakukan secara konsisten yakni melarang angkutan barang dengan tonase di atas 35 ton melintas di jalan raya, maka angkutan melebihi tonase itu harus mempergunakan kereta api. "Aturannya sudah ada, tapi kenapa tidak diberlakukan secara konsisten. Ini harus menjadi bahan evaluasi," kata Huzani.
     
Sementara itu pelatihan kader dan pengurus Serikat Pekerja Kereta Api (SPKA) yang digelar di Kantor Pusat PTKA di Bandung diikuti oleh 20 orang kader SPKA dari seluruh daerah operasi (Daop) mulai Jember Jatim hingga ujung Sumatera.
    

 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kritik Kebijakan Bupati Lewat Facebook, Ketua PGRI Jember Diperiksa Inspektorat

Kritik Kebijakan Bupati Lewat Facebook, Ketua PGRI Jember Diperiksa Inspektorat

Regional
Jual 20 Gadis Lewat MiChat, Penjual Mainan Anak Ditangkap

Jual 20 Gadis Lewat MiChat, Penjual Mainan Anak Ditangkap

Regional
Kerangka Manusia Ditemukan di Kebun Sawit Luwu Utara, Ini Hasil Penyelidikan Polisi

Kerangka Manusia Ditemukan di Kebun Sawit Luwu Utara, Ini Hasil Penyelidikan Polisi

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 11 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 11 Agustus 2020

Regional
PDI-P Umumkan Calon Pengganti Risma pada 19 Agustus 2020, Siapa Dia?

PDI-P Umumkan Calon Pengganti Risma pada 19 Agustus 2020, Siapa Dia?

Regional
Anggota DPRD Tak Percaya Covid-19, Walkot Ambon: Tinggal Saja di Lokasi Karantina

Anggota DPRD Tak Percaya Covid-19, Walkot Ambon: Tinggal Saja di Lokasi Karantina

Regional
Ayah Bunuh Bayi 40 Hari karena Ditolak Istri Saat Minta Berhubungan Badan, Begini Kronologinya

Ayah Bunuh Bayi 40 Hari karena Ditolak Istri Saat Minta Berhubungan Badan, Begini Kronologinya

Regional
CCTV Rusak, Penyebab Hilangnya 33 Tiang Pembatas Jembatan Ampera Masih Misterius

CCTV Rusak, Penyebab Hilangnya 33 Tiang Pembatas Jembatan Ampera Masih Misterius

Regional
Sisi Jalan Tol Palindra Ogan Ilir Terbakar, Jarak Pandang Pengendara Sempat Terganggu

Sisi Jalan Tol Palindra Ogan Ilir Terbakar, Jarak Pandang Pengendara Sempat Terganggu

Regional
Merasa Dihina di Medsos, Anggota DPRD Ciamis Laporkan Anak Gadisnya ke Polda Jabar

Merasa Dihina di Medsos, Anggota DPRD Ciamis Laporkan Anak Gadisnya ke Polda Jabar

Regional
Ngajar di Pedalaman, Guru Honorer Ini Dihadiahi Rp 15 Juta dari Jokowi

Ngajar di Pedalaman, Guru Honorer Ini Dihadiahi Rp 15 Juta dari Jokowi

Regional
Uji Klinis Fase 3 Resmi Dimulai, Erick Thohir Pastikan Calon Vaksin Covid-19 Halal

Uji Klinis Fase 3 Resmi Dimulai, Erick Thohir Pastikan Calon Vaksin Covid-19 Halal

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 11 Agustus 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 11 Agustus 2020

Regional
Seorang Wartawan di Kalsel Divonis 3 Bulan Penjara karena Berita

Seorang Wartawan di Kalsel Divonis 3 Bulan Penjara karena Berita

Regional
22 Rumah Adat Sumba Terbakar karena Faktor Alam, Ini Kronologinya

22 Rumah Adat Sumba Terbakar karena Faktor Alam, Ini Kronologinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X