Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pledoi Azirwan, Dibalas Replik JPU

Kompas.com - 21/08/2008, 11:21 WIB

JAKARTA, KAMIS - Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan tim penasihat hukum, sidang kasus dugaan suap anggota Dewan Perwakilan Rakyat terkait alih fungsi hutan lindung di Bintan Kepulauan Riau dengan terdakwa Azirwan, saling bersikukuh pada pendapatnya masing-masing.

Alhasil, sidang pagi ini (Kamis, 21/8), langsung merangkum tiga agenda sekaligus, pledoi, replik, dan duplik. Pada pledoinya, penasihat hukum Azirwan menolak tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Menurut dia, ada beberapa fakta yang terungkap di persidangan namun tidak dimasukkan dalam tuntutan.

Fakta pertama, adanya fakta permintaan uang sebesar 700.000 dollar Singapura oleh Yusuf Emir Faishal dan Hilman Hendra pada ekspose pertama 20 Juni 2007 di Hotel Sultan Jakarta. Suami artis Hetty Koes Endang itu menunjukkan angka di kalkulator telepon genggamnya.

Fakta kedua, Yusuf Emir yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Komisi IV juga mengatakan tidak akan memberikan rekomendasi jika permintaannya tidak dipenuhi. "Karena tidak memiliki anggaran, terdakwa tidak memenuhi permintaan tersebut dan masalah rekomendasi pengalihfungsian hutan itu terkatung-katung hingga Komisi IV berganti kepemimpinan," tuturnya.

Fakta ketiga yang tidak masuk dalam dakwaan, alih fungsi hutan lindung yang diajukan pemerintah Bintan memenuhi syarat dari segi teknis maupun aspek sosial. Fakta keempat, ancaman dari Al-Amin Nur Nasution yang membuat sekda Bintan Azirwan menyerahkan uang kepada suami pedangdut Kristina itu.

Oleh karena itu, penasihat hukum Azirwan yang diketuai Rusdi Arlon, meminta agar majelis hakim membebaskan, memulihkan hak, mengembalikan uang, dan membuka blokir rekening kliennya. Mereka juga mengutip pendapat Profesor Moeljatno dalam bukunya yang bertajuk "Perbuatan Pidana dan Pertanggungan JAwab Dalam Hukum Pidana" pada halaman 142.

"Atas perbuatan yang dilakukan orang karena pengaruh daya paksa, di mana fungsi batin tidak dapat bekerja secara normal karena adanya tekanan-tekanan (paksaan) dari luar, orang itu dapat dimaafkan kesalahannya. Di sini, terdakwa mendapat paksaan dari Al Amin," jelasnya.

Replik dan Duplik

Setelah mendengarkan pledoi dari penasihat hukum Azirwan, JPU lalu meminta izin untuk langsung mengajukan replik ke muka persidangan. Oleh majelis hakim yang diketuai oleh Mansyurdin Chaniago, JPU diizinkan untuk langsung mengemukakan pendapatnya atas pembelaan Rusdi dkk.

Menurut JPU, sebenarnya Azirwan memiliki dua pilihan dalam kasus ini, yaitu memberi atau tidak memberi uang. "Tapi terdakwa tetap memilih memberi, sehingga dia harus tetap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Oleh karena itu, kami menolak keseluruhan pledoi penasihat hukum terdakwa dan tetap berpegang teguh pada sidang tuntutan 12 Agustus lalu," tukas Ketua JPU, Suwardji.

Bagai permainan bulu tangkis, segera setelah JPU selesai membacakan repliknya, Rusdi langsung mengajukan duplik kepada majelis hakim dengan tetap berpegang pada pledoinya. Dia tetap berpendapat kliennya melakukan hal itu di bawah tekanan dari Al AMin Nur Nasution.(BOB)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Polri: Fredy Pratama Masih Gencar Suplai Bahan Narkoba Karena Kehabisan Modal

Polri: Fredy Pratama Masih Gencar Suplai Bahan Narkoba Karena Kehabisan Modal

Nasional
SYL Ungkit Kementan Dapat Penghargaan dari KPK Empat Kali di Depan Hakim

SYL Ungkit Kementan Dapat Penghargaan dari KPK Empat Kali di Depan Hakim

Nasional
Saksi Mengaku Pernah Ditagih Uang Pembelian Senjata oleh Ajudan SYL

Saksi Mengaku Pernah Ditagih Uang Pembelian Senjata oleh Ajudan SYL

Nasional
Polri Sita Aset Senilai Rp 432,2 Miliar Milik Gembong Narkoba Fredy Pratama

Polri Sita Aset Senilai Rp 432,2 Miliar Milik Gembong Narkoba Fredy Pratama

Nasional
Pesawat Super Hercules Kelima Pesanan Indonesia Dijadwalkan Tiba di Indonesia 17 Mei 2024

Pesawat Super Hercules Kelima Pesanan Indonesia Dijadwalkan Tiba di Indonesia 17 Mei 2024

Nasional
Daftar Sementara Negara Peserta Super Garuda Shield 2024, dari Amerika hingga Belanda

Daftar Sementara Negara Peserta Super Garuda Shield 2024, dari Amerika hingga Belanda

Nasional
Profil Haerul Amri, Legislator Fraksi Nasdem yang Meninggal Ketika Kunker di Palembang

Profil Haerul Amri, Legislator Fraksi Nasdem yang Meninggal Ketika Kunker di Palembang

Nasional
Demokrat Minta Golkar, Gerindra, PAN Sepakati Usung Khofifah-Emil Dardak di Pilkada Jatim 2024

Demokrat Minta Golkar, Gerindra, PAN Sepakati Usung Khofifah-Emil Dardak di Pilkada Jatim 2024

Nasional
SYL Beli Lukisan Sujiwo Tejo Rp 200 Juta Pakai Uang Hasil Memeras Anak Buah

SYL Beli Lukisan Sujiwo Tejo Rp 200 Juta Pakai Uang Hasil Memeras Anak Buah

Nasional
Anggota Komisi X DPR Haerul Amri Meninggal Saat Kunjungan Kerja

Anggota Komisi X DPR Haerul Amri Meninggal Saat Kunjungan Kerja

Nasional
Polri Desak Kepolisian Thailand Serahkan Fredy Pratama ke Indonesia Jika Tertangkap

Polri Desak Kepolisian Thailand Serahkan Fredy Pratama ke Indonesia Jika Tertangkap

Nasional
Jokowi Sebut 3 Hal yang Ditakuti Dunia, Wamenkeu Beri Penjelasan

Jokowi Sebut 3 Hal yang Ditakuti Dunia, Wamenkeu Beri Penjelasan

Nasional
Soal 'Presidential Club', Djarot PDI-P: Pak Prabowo Kurang Pede

Soal "Presidential Club", Djarot PDI-P: Pak Prabowo Kurang Pede

Nasional
Polri Serahkan Kasus TPPU Istri Fredy Pratama ke Kepolisian Thailand

Polri Serahkan Kasus TPPU Istri Fredy Pratama ke Kepolisian Thailand

Nasional
Evaluasi Arus Mudik, Jokowi Setuju Kereta Api Jarak Jauh Ditambah

Evaluasi Arus Mudik, Jokowi Setuju Kereta Api Jarak Jauh Ditambah

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com