Minggu, 21 Desember 2014

News / Regional

Gara-gara Mie Instan dan Minyak Goreng, Anggota TNI Serang Pos Polisi

Jumat, 10 Mei 2013 | 20:32 WIB

KEFAMENANU, KOMPAS.com - Gara-gara salah paham, anggota pos polisi perbatasan Indonesia-Timor Leste di Desa Haumeni Ana, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, diserang sejumlah anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Timor Leste Batalyon Infanteri (Yonif) Linud 503/Mayangkara di wilayah itu, Kamis (9/5/2013) sore.

Akibatnya, pos itu mengalami kerusakan di bagian kaca dan pintu. Satu anggota Brimob mengalami luka serius di tulang belakang akibat terkena lemparan batu.

Camat Bikomi Nilulat, Lodovikus Lake, kepada Kompas.com, Jumat (10/5/2013), mengatakan, peristiwa itu bermula saat sembako milik TNI seperti mie instan dan minyak goreng yang dibawa menggunakan angkutan pedesaan dihadang dan diperiksa di pos polisi.

"Saat polisi tahan mobil itu, polisi sempat membuka mie instan dan mengatakan kepada sang sopir untuk menyuruh tentara datang ke pos polisi. Pesan polisi lalu disampaikan sopir kepada tentara. Karena tersinggung dan marah, mereka (tentara) lalu datang dan melempari pos polisi pakai batu. Seorang anggota Brimob yang saat itu berada dalam pos dipukuli, sementara anggota polisi yang lainnya melarikan diri," kata Lodovikus.

Lanjut Lodovikus, insiden itu tidak berlangsung lama karena berhasil dikendalikan oleh pimpinan mereka. Kesalahpahaman ini sudah diselesaikan dan didamaikan malam itu juga.

"Tadi malam Pak Kapolres TTU dan Pak Wakil Komandan Satgas RI-Timor Leste dari Batalyon Infanteri (Yonif) Linud 503/Mayangkara sudah turun langsung dan sudah didamaikan," jelas Lodovikus.

Kapolres TTU AKBP I Gede Mega Suparwitha yang ditemui di ruang kerjanya mengaku, kejadian itu hanya salah paham saja. "Hanya mis-komunikasi saja dan sudah diselesaikan," kata Suparwitha singkat, tanpa menjelaskan kronologi kejadiannya.

Dihubungi terpisah, Wakil Komandan Satgas RI-Timor Leste dari Batalyon Infanteri (Yonif) Linud 503/Mayangkara, Mayor Sriyono juga mengaku tidak ada penyerangan yang dilakukan oleh anggotanya.

"Ndak ada penyerangan apa-apa. Yang ada hanya salah paham saja, karena informasi dari sopir yang mengangkut barang-barang belanjaan kita seperti minyak goreng 20 liter dan mie dua dos, mengatakan bahwa barang kita ditahan polisi sehingga kita turun cek, namun ternyata barang kita sudah berada di pos sehingga kita pun kembali," jelas Sriyono.


Penulis: Kontributor Timor Barat, Sigiranus Marutho Bere
Editor : Heru Margianto