Selasa, 23 September 2014

News / Regional

30 Persen Hutan Lindung Tahura, Kritis

Senin, 18 Maret 2013 | 00:18 WIB

MARTAPURA, KOMPAS.com - Sekitar 30 persen lahan hutan lindung, Taman Hutan Raya Sultan Adam Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan kini kritis, atau sekitar 40 ribu hektar dari luas keseluruhan 120 ribu hektar.

"Kondisi tersebut sungguh merisaukan, karena itu diperlukan upaya rehabilitasi,mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan resapan air," Kepala Tahura Sultan Adam, Akhmad Ridhani di lokasi Tahura, Minggu (17/3/2013).

Hal itu dikatakannya di sela-sela penanaman bibit pohon yang dilakukan pejabat Pemkab Banjar yang dipimpin, Bupati setempat, Sultan Khairul Seleh bersama sejumlah wartawan yang tergabung dalam komunitas pena hijau.

Menurut dia, jumlah lahan kritis di kawasan tahura yang masuk wilayah Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar itu merupakan hasil pendataan yang dilakukan pada 2007.

Data terkini terkait luasan lahan kritis masih belum terangkum namun luasannya berkurang karena adanya penanaman bibit pohon yang disebar di kawasan hutan yang dilindungi tersebut.

"Hingga 2010 luasan lahan kritis yang sudah ditanami bibit pohon mencapai 100 hektar dan luasannya akan terus ditingkatkan untuk mengurangi banyaknya lahan kritis," katanya seraya menyebutkan tanaman yang dikembangkan tersebut adalah jenis buah-buahan dan jenis kayu khas setempat, seperti ulin, kruing, sintuk dan lainnya.

Dijelaskan, terjadinya lahan kritis di kawasan Tahura bukan disebabkan penebangan liar tetapi lebih banyak akibat terjadinya kebakaran hutan sehingga membuat areal sekitarnya kritis karena tidak ditumbuhi pepohonan.

Selain akibat kebakaran hutan dan lahan, munculnya lahan kritis juga disebabkan pembukaan kawasan menjadi ladang dan kebun bagi sebagian masyarakat setempat untuk ditanami pohon-pohon produktif.

Dikatakan, upaya yang dilakukan untuk mengurangi luasan lahan kritis adalah rehabilitasi lahan melalui program penanaman bibit pohon baik yang dibiayai APBD Provinsi Kalsel, APBN maupun bantuan pihak ketiga.

Pihak ketiga yang memberikan dana penghijauan di areal yang menjadi kawasan penelitian, pendidikan, dan wisata alam tersebut, selain dari donatur luar negeri juga dari berbagai perusahaan, termasuk dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Banjarmasin.

"Setiap tahun melalui APBD Kalsel dialokasi anggaran untuk rehabilitasi lahan termasuk memanfaatkan dana APBN serta menjaring bantuan dari pihak ketiga terutama kalangan swasta," ujarnya.

Ditambahkan, penanaman bibit pohon yang dibiayai APBD Kalsel setiap tahun mencapai luasan 10 hektare dan melalui APBN berhasil ditanami bibit pohon dengan luasan mencapai 40 hektar hingga 50 hektar.

"Ke depan kami berupaya memfokuskan bantuan dari pihak ketiga sebagai bentuk partisipasi mereka terhadap upaya kepedulian lingkungan sehingga luasan lahan yang bisa ditanami lebih besar," katanya.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: