DAM Penuh Material, Permukiman Warga Terancam Banjir - Kompas.com

DAM Penuh Material, Permukiman Warga Terancam Banjir

Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
Kompas.com - 09/03/2013, 18:10 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -- Banjir Lahar dingin yang terjadi pada Jumat (08/03) sore mengakibatkan beberapa DAM di Kali Gendol kembali terisi dengan material. Penuhnya DAM tersebut dikawatirkan menyebabkan material meluber ke pemukiman warga yang tinggal di bantaran sungai jika sewaktu-waktu banjir kembali datang.

Seperti yang di beritakan sebelumnya, banjir lahar dingin Merapi terjadi pada Jumat (08/03) sore setelah puncak Merapi diguyur hujan selama tiga jam. Banjir lahar dingin tersebut membawa material hingga berjarak 20 kilometer dari arah puncak.

Ketua Relawan dari Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB), Sriyanto mengatakan, DAM rata-rata sudah penuh karena banjir lahar dingin kemarin.

"DAM yang sudah penuh di antaranya DAM Monggang yang berada di Desa Kepuharjo, Cangkringan, DAM Bakalan, Suruh, dan DAM Bronggang, di Desa Argomulyo, Cangkringan," terangnya, Sabtu (9/3/2013).

Dia menuturkan, penumpukan material di palung sungai, terutama terjadi di Kali Gendol. Dibandingkan dengan sungai lainnya, sungai Gendol kerawanannya lebih besar.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandrio mengakui sulit mengukur berapa jumlah material lahar dingin yang mengalir dari Merapi. Sebab, volume material yang mengalir tergantung dari intensitas curah hujan.

"Yang paling perlu diwaspadai adalah Sungai Gendol. Sebab, endapan panas berupa bongkahan dan batu besar berada di aliran Gendol," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Heru Saptono mengatakan, pihaknya akan segera melakukan identifikasi kembali guna menemukan titik-titik rawan.

Heru menjelaskan, untuk penumpukan material di sungai dan DAM, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait guna menormalisasi sungai.

"Saat ini akan kita lakukan pengecekan ke lokasi, termasuk meminta keterangan kepala desa masing-masing yang wilayahnya terlewati sungai berhulu Merapi. Dari sana akan terlihat sungai mana saja yang sudah penuh dan perlu dinormalisasi," katanya.

PenulisKontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma
EditorFarid Assifa
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM