Kamis, 23 Oktober 2014

News / Regional

Orang-orang Gila Berkeliaran, Warga Lampung Resah

Rabu, 6 Maret 2013 | 08:12 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Keberadaan orang gila di Kota Bandar Lampung cukup meresahkan warga sehingga pemerintah kota didesak segera menertibkan mereka agar tidak berkeliaran di jalan raya dan tempat-tempat umum.

"Orang gila sudah masuk rumah warga untuk mengambil makanan dan barang-barang lainnya," kata Joko (34) di Bandar Lampung, Rabu (6/3/2013).

Dia mengatakan, orang gila yang sering berkeliaran itu tidak mengenakan pakaian, padahal warga telah memberikan baju dan celana, tetapi tidak dikenakannya. Bukan hanya itu, penderita penyakit jiwa itu terkadang berteriak-teriak sehingga membuat warga takut, khususnya perempuan dan anak kecil.

Keberadaan orang gila itu sudah dilaporkan kepada pihak kelurahan, tetapi belum ada tanggapan, padahal telah meresahkan. "Kami berharap Dinas Sosial yang berwenang dalam penanganan masalah ini segera melakukan tindakan karena keberadaan mereka sangat meresahkan warga. Mereka perlu mendapat perawatan atau pengobatan," katanya.

Pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandar Lampung mengaku sudah menjaring belasan orang gila yang berada di Kota Tapis Berseri itu. "Kami selalu menjaring orang gila yang berada di sejumlah kelurahan dan kecamatan," kata Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Bandar Lampung, Muzarin Daud.

Dia mengatakan, Dinsos selalu memantau keberadaan orang gila ini. Razia pun dilakukan terhadap mereka dan dilakukan pendataan jika mereka mengetahui alamatnya, akan diantar ke keluarganya.

Namun, banyak di antara mereka yang lupa akan alamat rumahnya. Dalam merehabilitasi orang gila tersebut, pihak Dinsos bekerja sama dengan tempat Rehabilitasi Sinar Jati dan Rehabilitasi Olia Rahma, Kecamatan Kemiling.

"Tahun 2013 diperkirakan orang gila akan bertambah di Bandar Lampung. Diperkirakan karena beban ekonomi dan tekanan dalam rumah tangga. Mereka banyak berusia 30 hingga 40 tahun," katanya.

Untuk kelancaran operasional, pihaknya telah menganggarkan dana sekitar Rp 50 juta. Anggaran tersebut diperuntukkan bagi konsumsi para orang gila selama di penampungan dan honor petugas penertiban.


Editor : Kistyarini
Sumber: