Senin, 22 September 2014

News / Regional

Aceh

Celana Ketat Laris Pasca-larangan Duduk "Ngangkang"

Rabu, 9 Januari 2013 | 16:38 WIB

BIREUEN, KOMPAS.com—Peningkatan daya beli celana khusus wanita diketahui meningkat seiring diperketatnya aturan memakai busana muslimah yang diidentikkan dengan rok, dan larangan perempuan duduk mengangkang di atas motor. Tak hanya celana jeans, sejumlah celana ketat lain dari merek terkenal disebutkan juga laku keras, seperti legging atau celana ketat berbahan lembut.

Sejumlah pedagang pakaian jadi, kepada Kompas.com, Rabu (9/1/2013) mengatakan, celana ketat seperti merk Zarra memiliki peminat tinggi di kalangan kaum hawa beberapa bulan terakhir. Penjualan celana ini pun meningkat tajam, pasca-ketatnya pemberlakuan razia berbusana muslim.

"Kalau dulu celana jeans banyak dicari perempuan, sekarang justru seperti legging ini lebih banyak laku," sebut Hera, seorang pedagang di Kota Bireuen.

Diakuinya, daya beli wanita meningkat tajam seiring razia Wilayatul Hisbah (WH) gencar dilakukan. Namun ia tidak mengetahui alasan yang membuat celana ketatnya laku keras.

Senada diungkapkan Aslam, pedagang pakaian jadi di Jalan Jati ini mengatakan, banyaknya peminat pada celana ketat berbahan lembut ini membuat tokonya laris manis. Aslam pun sering berbelanja ke Medan setiap bulan untuk menambah stok di tokonya.

"Pesanan pelanggan juga banyak, karena warna dan bahan celana ketat ini bervariasi sehingga laris manis," sebutnya.

Menurut pemuda ini, pembelian celana ketat yang disebut legging oleh banyak perempuan tak hanya untuk pemakaian luar saja, tapi juga untuk celana di dalam rok agar mempermudah perempuan membawa sepeda motornya.

"Banyak juga pelanggan saya yang ibu-ibu memesan ini untuk dipakai dengan rok agar tidak tersibak kena angin pas di jalan," jelasnya.

Meski demikian, ia tak menampik banyak juga wanita yang membeli celana ini untuk dipadupadankan dengan baju muslim yang berukuran panjang. Bahan dasar legging ini lembut dan melekat di tubuh saat dikenakan, sehingga laku keras di pasaran.


Penulis: Kontributor Bireuen, Desi Safnita Saifan
Editor : Farid Assifa