Kamis, 24 April 2014

News / Regional

Motif Etnik, Tren Batik 2013

Minggu, 9 Desember 2012 | 23:14 WIB

Baca juga

 SEMARANG, KOMPAS.com - Motif etnik dalam industri sandang, utamanya kerajinan batik, diperkirakan akan menjadi tren motif busana 2013.

Motif etnik akan dominan dibanding motif realis seperti daun, ikan, buah, hewan dan motif klasik kawung atau parang.

Dalam pameran industri kreatif Jawa Tengah 2012, Minggu (9/12/2012) yang diikuti lebih kurang 20 perajin dan usaha kecil, berlangung 5 - 9 Desember 2012, sangat kentara motif etnik juga muncul dalam karya-karya kain batik para perajin.

Pameran itu sendiri menampilkan kreatif perajin batik dan tenun industri kecil asal Pekalongan, Jepara, Lasem-Rembang, Klaten, Tegal dan Banyumas.

"Batik dan tenun tidak hanya untuk bahan baju, kemeja, daster atau kain panjang. Tas motif batik yang dibuat seluruhnya dari keterampilan tangan perajin juga ada. Tas batik ini ditawarkan Rp 1 juta," ujar Rasita, salah satu pemerhati kerajinan batik dan tenun di Semarang.

Motif etnik paling menonjol ditampilkan usaha kerajinan batik dan cenderata mata Ethnic By Erlin, asal Mojoyan, Kabupaten Klaten. Hampir semua batik yang dipamerkan, semua batik tulis.

Batik etnik dengan motif kotak, segitiga, bulatan juga kombinasi mengambil bentuk alam seperti daun, ombak dan lingkaran menyederhanakan karya batik.

Pengemar batik asal Kendal, Sriasih menilai, tumbuhnya usaha kerajinan batik di setiap daerah di Jawa Tengah dalam empat tahun ini memunculkan kreasi motif motif dan aneka jenis hiasan batik.

Motif kreatif dari penelitian maupun studi kekayaan alam lokal jauh melampaui makna batik klasik milik perajin Solo, Yogjakarta dan Pekalongan.

Kekuatan motif etnik, juga melecut perajin sangat moderat dalam membuat ragam dan jenis motif batik.

Bentuk etnik yang tidak kalah menarik terlihat dari selembar kain batik buatan Sasono Indonesia, Semarang.

Kain itu dilukis batik dengan ragam sketsa candi Borobudur, yang dilengkapi lintasan sawah dan awan berarak di langit. Dalam pameran tersebut, kain batik yang dijual seharga Rp 500.000 per lembar juga  laris.


Penulis: Winarto Herusansono
Editor : Tjahja Gunawan Diredja