Rabu, 26 November 2014

News / Regional

Kasus Sampang, Bukti Gagalnya Kepemimpinan di Madura

Senin, 27 Agustus 2012 | 15:46 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyerangan kelompok Islam Syiah oleh sekelompok massa di Desa Karang Gayam, Sampang, Madura, Jawa Timur, dinilai menjadi bukti kegagalan kepemimpinan lokal. Pemimpin lokal dinilai tidak menempatkan dirinya sebagai pemimpin masyarakat, tetapi selalu menempatkan di atas kehendak mayoritas.

Hal itu disampaikan Said Abdullah, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dari daerah pemilihan Madura, melalui pesan singkat, Senin (27/8/2012). "Sangat memalukan karena tidak pernah ada dalam sejarah di Madura terjadi bentrok yang sampai merenggut korban jiwa, lebih-lebih karena alasan perbedaan keyakinan," kata Said.

Said menilai, sudah tidak zamannya lagi perbedaan diakhiri dengan bentrokan. Siapa pun yang terlibat dalam peristiwa itu, kata dia, harus dimintai tanggung jawab di hadapan hukum.

Achsanul Qosasi, politisi Partai Demokrat yang juga dari daerah pemilihan Madura, mengatakan, seharusnya isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tidak lagi berkembang di Madura. Menurut dia, banyak pihak yang akan dirugikan jika konflik di Madura terus berlanjut.

"Rakyat Madura harus tetap menumbuhkan energi positif. Semoga ini kali terakhir terjadi pembunuhan sesama Madura. Kita harus bersatu, jangan mudah percaya pada isu yang memecah belah Madura. Musuh kita adalah setan dan iblis, bukan orang Madura sendiri," kata Achsanul.


Penulis: Sandro Gatra
Editor : Glori K. Wadrianto