Kamis, 18 Desember 2014

News / Regional

"Tumbilo Tuhe", Tradisi Ramadhan di Gorontalo

Sabtu, 18 Agustus 2012 | 18:35 WIB

Terkait

GORONTALO, KOMPAS.com - Sejak tiga malam sebelum Ramadhan berakhir, suasana di Gorontalo akan berbeda seperti malam-malam lainnya. Di tepian jalan, terutama jalan yang menuju masjid atau mushala, banyak terpasang lampu minyak yang umumnya terbuat dari botol beling bekas berukuran kecil. Itulah adat tumbilo tuhe atau pemasangan lampu di Gorontalo. Tradisi ini sudah berusia ratusan tahun.

Kata tumbilo tuhe berasal dari bahasa Gorontalo, yaitu tumbilo yang bermakna pemasangan, dan tuhe yang artinya lampu. Ini adalah adat yang berlangsung sejak abad ke-15, atau di masa awal masuknya Islam di Gorontalo. Dari riwayatnya, lampu yang dimaksud tentu saja bukan lampu listrik, melainkan lampu tradisional berbahan bakar minyak.

Sarat nilai

Sejatinya, tumbilo tuhe berkisah tentang ajakan bagi umat Islam di Gorontalo untuk semakin meramaikan masjid di hari-hari menjelang Ramadhan berakhir. Karena di masa itu belum ada penerangan di jalan, dipasanglah lampu (tumbilo tuhe) di jalan-jalan yang mengarah ke masjid atau mushala. Tujuannya jelas agar umat Muslim jalannya semakin terang dan mudah untuk melangkah ke masjid atau mushala.

”Di awal-awal tradisi ini dibuat, bahan bakar digunakan adalah getah damar. Lambat laun diganti dengan minyak kelapa, kemudian minyak tanah. Di era modern sekarang, lampu listrik pun turut menyemarakkan adat tumbilo tuhe,” ujar pakar sejarah dari Universitas Negeri Gorontalo Alim S Niode.

Bagi Alim, tumbilo tuhe sebenarnya sarat nilai luhur. Selain mengajak umat Muslim di Gorontalo meningkatkan ibadah menjelang Ramadhan berakhir, ada pula nilai demokrasi. Sebab, umat diajak berkumpul untuk menentukan siapa pemimpin shalat Ied, dan siapa yang akan memberikan khotbah pada Idul Fitri nanti.

Seiring perjalanan waktu, adat tumbilo tuhe berubah menjadi seremonial belaka. Sebab, lampu penerangan listrik ada di mana-mana, bahkan sampai ke pelosok desa. Tumbilo tuhe pun sudah berbumbu politis tatkala seorang calon kepala daerah atau calon anggota legislatif memanfaatkan adat ini untuk meraih simpati.

”Misalnya, jika kebetulan malam pasang lampu berdekatan dengan agenda pemilihan kepala daerah, maka beberapa calon menyumbangkan minyak tanah kepada masyarakat secara cuma-cuma agar bisa merayakan adat tumbilo tuhe sekaligus meraih simpati pemilih,” kata Alim.

Salah satu kreasi modern adat tumbilo tuhe adalah digelarnya festival malam pasang lampu yang untuk pertama kalinya diadakan di obyek wisata Pentadio Resort di Limboto, Kabupaten Gorontalo, Selasa (14/8/2012) malam. Di kawasan wisata seluas 14 hektar itu dipenuhi 15.000 buah lampu minyak serta 1.000 buah lampion. Setiap malam, ribuan lampu minyak itu menghabiskan 400 liter minyak tanah.

”Ini (tumbilo tuhe) sudah menjadi adat di Gorontalo dan perlu dilestarikan. Lewat festival ini, saya berharap tumbilo tuhe bisa dirayakan dengan meriah oleh seluruh rakyat Gorontalo,” ujar Sukri Moonti, penyelenggara festival tumbilo tuhe di Pentadio Resort.

Selain pemasangan ribuan lampu minyak, pada malam pembukaan festival tumbilo tuhe turut diramaikan dengan pelepasan 1.000 lampion ke udara serta pesta kembang api. Festival tumbilo tuhe juga dimeriahkan dengan bunggo atau meriam bambu. Dengan menggunakan karbit, dentuman bunggo menambah riuh suasana malam itu.

Krisis minyak tanah

Namun, ada perbedaan perayaan adat tumbilo tuhe di Gorontalo, khususnya tahun ini. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tidak semua warga antusias memasang lampu minyak. Pasalnya, harga minyak di Gorontalo mencapai Rp 11.000 per liter. Hal ini sebagai akibat dikuranginya penjualan minyak tanah bersubsidi, dan diganti dengan minyak tanah nonsubsidi.

”Penjualan lampu tumbilo tuhe tak sebanyak tahun lalu. Saat ini saya memiliki stok lampu tumbilo tuhe sekitar 5.000 botol. Tahun lalu, sebelum tiga hari terakhir Ramadhan sudah nyaris habis terjual, tapi sekarang hanya laku beberapa ratus saja. Mahalnya harga minyak tanah membuat perayaan tumbilo tuhe tidak semarak seperti tahun 2011,” kata Saiful Hasan, salah satu penjual lampu tumbilo tuhe di Pasar Sentral Gorontalo.

Meski minyak tanah mahal, tumbilo tuhe di Gorontalo harus tetap semarak. Sebagai gantinya, ada warga yang memasang lampu bohlam kecil aneka warna. Bagaimana pun, tumbilo tuhe telah menjadi bagian dari tradisi di Gorontalo menyambut Idul Fitri. (Aris Prasetyo)

 


Editor : Hindra
Sumber: