Jumat, 19 Desember 2014

News / Travel

"Sasi", Selamatkan Biota Laut Raja Ampat

Sabtu, 14 Juli 2012 | 11:17 WIB

RAJA AMPAT, KOMPAS.com - Air lautnya yang jernih bagaikan lapisan kristal yang berkilau diterpa cahaya matahari. Kejernihan air laut Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, membuat siapapun yang memandangnya berdecak kagum. Anda tidak perlu menyelam ke dalam untuk mengintip keindahan bawah laut Raja Ampat. Cukup dengan memandang dari dekat permukaan laut, Anda dapat melihat ikan warna-warni berenang ke sana ke mari di antara karang cantik beraneka warna.

Rasanya, bagai menonton akuarium hidup saja. Pantas saja, Raja Ampat menjadi tempat wisata Indonesia yang diagung-agungkan hingga ke mancanegara. Taman laut Kepulauan Raja yang terletak di wilayah segitiga koral dunia itu memiliki koleksi habitat laut paling kaya dan lengkap. Segitiga koral dunia, Filipina-Indonesia-Papua Nuigini tersebut merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia yang dilindungi dan ditetapkan berdasarkan konservasi perlindungan alam Internasional.

Oleh karena itu, sangat disayangkan jika keindahan alam bawah laut Raja Ampat rusak karena ulah manusia. Untungnya, masyarakat sekitar Raja Ampat memiliki sistem sendiri untuk menjaga keseimbangan alam lautnya.

Kepala Bidang Promosi Raja Ampat, Klasina Rumbekwan mengatakan, masyarakat menerapkan aturan adat yang disebut dengan sasi dalam menjaga alam bawah laut Raja Ampat. "Sasi itu suatu adat turun temurun Raja Ampat untuk menjaga alam, menjaga laut," kata Klasina di Waisai, Raja Ampat, beberapa hari lalu.

Menurut Klasina, adat sasi melarang masyarakat untuk menangkap ikan, kerang, lobster, dan hasil bawah laut lainnya selama masa yang ditentukan. Sesuai dengan adat sasi, masyarakat Raja Ampat tidak boleh menangkap hasil laut selama enam bulan. Setelahnya, warga baru boleh memanen ikan.

Namun, tambah Klasina, waktu memanen ikan hanya berlangsug selama dua hingga tiga minggu. Dalam masa panen tersebut, warga hanya menangkap ikan sebanyak jumlah yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Dalam kepercayaan itu, mereka hanya ambil secukupnya, hanya untuk makan. Dengan budaya sasi itu, menjadi banyak ikan, akan berkembang dan berkembang," ujar Klasina.

Aturan adat sasi ini pun, katanya, tidak sembarangan. Masyarakat memulai adat sasi dengan berdoa di masjdi maupun gereja. Mereka percaya, musibah akan datang jika aturan adat yang berlaku turun temurun tersebut dilanggar.

"Kalau dilanggar,bisa kena musibah seperti sakit, dan masyarakat percaya akan hal itu," tuturnya. Dia menambahkan, budaya masyarakat menjaga keseimbangan alam tidak hanya berlaku untuk kehidupan bawah laut.

Masyarakat Raja Ampat juga menjaga kelestarian tumbuhan yang hidup di tanahnya. Misalnya, kata Klasina, dalam memperlakukan pohon kelapa. Jika ada buah kelapa yang jatuh, masyarakat tidak langsung mengambilnya atau membuangnya namun menumpuk buah-buah tersebut di bawah pohon kelapa.

"Karena dengan begitu, nanti akan tumbuh pohon kelapa pohon kelapa yang lain," ucapnya.

Begitu sayangnya masyarakat Raja Ampat terhadap alam, mereka menjaga tradisi tersebut turun temurun. Jangan sampai, keindahan alam Raja Ampat nantinya hanya menjadi dongeng sebelum tidur bagi generasi penerus.


Penulis: Icha Rastika
Editor : Pepih Nugraha