Sabtu, 20 Desember 2014

News / Regional

Nelayan Khawatirkan Pukat Cincin

Minggu, 3 Juni 2012 | 11:48 WIB

PADANG, KOMPAS.com -- Nelayan yang menggunakan kapal bagan di Kota Padang, Sumatera Barat, mengkhawatirkan praktik penangkapan ikan yang menggunakan pukat cincin.

Sejumlah nelayan di Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, mengatakan, nelayan dengan pukat cincin berasal dari provinsi lain. Salah seorang nelayan, Afrizal (40) mengatakan hal itu berpengaruh pada jumlah tangkapan. Total tangkapan nelayan relatif turun akibat aktivitas itu selain pengaruh alam seperti bencana tsunami.

Sebagian besar nelayan kapal bagan di Kota Padang beroperasi hingga jarak sekitar 70 mil dari garis pantai. Keterbatasan alat tangkap membuat wilayah operasional tidak bisa diperluas hingga mencapai seluruh kawasan zona ekonomi eksklusif selebar 200 mil.  

Afrizal menyebutkan, saat ini jumlah tangkapan hanya berkisar 2,5 ton. Sekitar tiga tahun lalu jumlah itu bisa mencapai lima ton untuk sekali berlayar. Rata-rata waktu berlayar kapal bagan selama tiga hari penuh di lautan. Penangkapan ikan dilakukan dengan menebar rumpon dari daun pinang di tengah perairan.

Setelah itu lampu-lampu berkekuatan besar yang dipasang di sekeliling kapal bagan disorotkan ke atas permukaan laut. Ikan-ikan terpancing naik ke sekitar rumpon, lalu ditangkap dengan jaring untuk seterusnya dipasarkan ke Aceh, Pekanbaru, dan Jambi.

"Tapi selama saya melaut belum pernah bertemu dengan nelayan dari negara lain. Kalau dari daerah lain ada," kata Afrizal. Adapun wilayah tangkapannya berada pada kisaran 70 mil dari Padang atau berada di kawasan perairan sebelum Kepulauan Mentawai.

Zainal (46), seorang pengelola kapal bagan mengatakan, ancaman terutama bagi nelayan bagan saat ini ialah beroperasinya kapal-kapal penangkap ikan dengan pukat cincin. "Kapal-kapal itu bukan dari Sumbar," ujarnya.

Menurut Zainal, praktik itu cenderung makin mengurangi jumlah tangkapan ikan tongkol yang diincar nelayan bagan Sumbar. Padahal, menurut Zainal, setelah tsunami melanda sebagian Kepulauan Mentawai pada 2010 lalu jumlah tangkapan ikan tongkol juga cenderung makin berkurang.

Hal itu relatif bertolak belakang dengan jumlah tangkapan ikan di wilayah laut Sumbar yang berdasarkan catatan Dinas kelautan dan Perikanan Sumbar tercatat naik antara 2010 dan 2010. S epanjang 2011 tercatat 196.511,5 ton ikan ditangkap. Jumlah itu naik dibandingkan 2010 yang sebesar 192.658,4 ton.


Penulis: Ingki Rinaldi
Editor : Nasru Alam Aziz