Jumat, 19 Desember 2014

News /

INFRASTRUKTUR

Jalur Aek Latong Masih Berbahaya

Rabu, 21 Maret 2012 | 04:56 WIB

Sipirok, Kompas - Jalur lintas Sumatera di tanjakan Aek Latong, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, masih berbahaya bagi kendaraan yang melintas. Tanjakan tinggi dengan kemiringan 50-60 derajat masih berisiko bagi kendaraan berat terjun bebas ke danau kecil di sisi kanan jalan karena tidak diberi pagar.

Kondisi jalan semakin parah saat hujan. Banyak kendaraan tidak berani melintas di tanjakan karena jalan licin. Hotman Harahap, pengemudi yang melintas di jalur Aek Latong asal Padang Sidimpuan, Selasa (20/3), mengatakan, kerusakan jalan sudah terjadi sejak 1997. Wacana pengalihan jalan juga sering diungkapkan. Namun, belum juga terealisasi.

Meskipun rusak, ratusan kendaraan setiap hari melintas di jalur Aek Latong karena tidak ada pilihan. Padahal kerusakan sudah mencapai 5 kilometer. Saat naik ke tanjakan, banyak kendaraan terutama kendaraan berat yang terlihat ngos-ngosan. Debu mengepul akibat gesekan ban yang berat dengan tanah. Kendaraan lebih kecil memilih menunggu melintas ketika sepi daripada berada di belakang kendaraan besar.

Posisi jalan turun

Asrul Azis Siregar (43), karyawan Hotel Tor Sibohi Nauli di Sipirok, bahkan sering harus menjemput turis asing dari Medan ke Sumatera Barat ke lokasi tanjakan. ”Turis memilih jalan kaki menerobos hujan dan jalanan becek. Kami menjemput di ujung tanjakan dan mengantar ke hotel,” katanya.

Pergerakan tanah di Desa Aek Latong sudah terjadi sejak tahun 1997. Sebanyak 45 keluarga yang tinggal di Aek Latong sudah direlokasi ke Desa Kutaimbaru, tak jauh dari Aek Latong, pada tahun 2003.

Sutan Suri Laut Siregar (84), warga Aek Latong, mengatakan bahwa posisi jalan makin turun tiap tahun. Danau di sisi kanan jalan dulu sawah, lalu menggenang menjadi danau setelah pengerukan beberapa tahun terakhir.

Sutan yang memiliki sawah di Aek Latong, sebelumnya bisa menghasilkan 500 kaleng gabah tiap panen. Setelah longsor, sawah tak lagi bisa ditanami.

Hal serupa dikatakan Maratagor Harahap (77), warga relokasi dari Aek Latong di Kutaimbaru. Menurut Maratagor, sejak tahun 1997 lantai rumah bisa tiba-tiba retak, dan tembok rumah retak.

Pintu pun tidak dapat dibuka, hingga akhirnya rumah rusak. Sawah yang dahulu menghasilkan 2.000 kaleng gabah tiap panen, sekarang ini tinggal 20 kaleng saja.

Meskipun warga sudah direlokasi sembilan tahun lalu, jalan justru bertahan. Warga mengkhawatirkan peristiwa jatuhnya bus ALS ke danau yang menyebabkan belasan orang tewas terjadi lagi jika jalan tidak direlokasi atau diperbaiki. (WSI)


Editor :