Senin, 1 September 2014

News / Regional

Busung Lapar, Dua Bersaudara Tinggal Tulang Berbalut Kulit

Selasa, 6 Maret 2012 | 10:55 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Dua bocah bersaudara di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, diduga menderita busung lapar. Kondisi tubuhnya kurus kerempeng hanya tulang berbalut kulit. 

Dinas kesehatan setempat memang pernah turun tangan memantau kesehatan sang bocah ketika ramai menjadi pemberitaan berbagai media setahun lalu. Namun, seiring redupnya pantauan media, petugas kesehatan pun lupa hingga kondisi kesehatan dua bocah malang kian memburuk. Meski Sahrul dan Sahril sudah berumur enam dan lima tahun, kondisi kesehatannya tak kunjung membaik.

Nurhayati, janda yang merawat setulus hati kedua keponakannya sejak kecil ini, mengaku tak mampu memberi asupan gizi yang cukup untuk membantu pertumbuhan kesehatan keponakannya. Pendapatannya sebagai pedagang sayur-mayur di emperan pasar sentral Pekkabata membuatnya kesulitan untuk membeli susu dan asupan gizi yang cukup guna memulihkan kesehatan keduanya.

Setahun yang lalu, ketika menjelang pemilihan gubernur Sulbar, dua bocah malang ini pernah ramai diberitakan berbagai media lokal dan nasional. Dinas kesehatan setempat pun buru-buru turun tangan membantu kedua bocah tersebut. Sejumlah bantuan, seperti biskuit, susu, senter, dan beras, pernah disumbangkan untuk Sahrul dan Sahril.

Petugas dinas kesehatan pun memvonis keduanya menderita gizi buruk ketika itu. Namun, seiring meredupnya pemberitaan media, kedua bocah miskin ini pun luput dari pantauan petugas hingga kondisi kesehatannya makin memburuk.

Imran, ayah Sahrul dan Sahril, meninggal empat tahun lalu ketika kedua bocah ini masih kecil. Sementara Rini, sang ibu kedua bocah, kini menghilang entah ke mana. Rini hanya menitipkan kedua anaknya yang masih menyusui dan meninggalkan mereka ke Kalimantan dengan pesan akan mengurus barang dan harta peninggalan suaminya.

Namun, hingga menjelang lima tahun Rini tak kunjung kembali. Jangankan kembali menjenguk anaknya, mengirim kabar ke Nurhayati yang merawatnya pun tak pernah.

Saat Nurhayati pergi ke pasar pada waktu subuh, hanya Sahril dan Sahrul di rumah. Nurhayati biasanya baru pulang dari pasar berjualan setelah siang hari. Saat Nurhayati pulang dari pasar itulah baru sibuk mengurus keperluan keponakannya, termasuk memberi makan dan mengganti pakaiannya.


Penulis: Junaedi
Editor : Tri Wahono