Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 12:09 WIB
Perkebunan
Perhutani Perbaiki Cara Sadap Getah Pinus
Winarto Herusansono | Agus Mulyadi | Sabtu, 25 Februari 2012 | 16:02 WIB
|
Share:
Kompas/Winarto Herusansono Ekspor perdana getah pinus masak Gondorukem, Sabtu (25/2/2012) dilepas Dirut Perum Perhutani, Bambang Sukmananto di halaman KBM Unit Non Kayu di Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Truk kontainer ini memuat gondorukem yang siap ekspor ke China.

SEMARANG, KOMPAS.com - Perum Perhutani mulai memperbaiki cara sadap getah pinus, dari pola tradisional menjadi mekanisasi.

Saat ini penyadapan getah pinus di kawasan hutan yang kerap langka tenaga kerja, diganti mekanisasi dengan sistem quarre yakni mesin penyadap dengan tusukan kecil di kulit pohon pinus.

Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto, Sabtu (25/2/2012) mengemukakan, selama ini penyadapan tradisional dengan pembuatan coakan di pohon, supaya getah bisa mengalir banyak, memakan korban pohon pinus produktif.

Pohon-pohon pinus besar, banyak yang tumbang kena hembusan angin kencang, akibat sejumlah bagian pohonnya dilubangi penyadap. Tak jarang, lubang coakan terlalu dalam di sekujur pohon, baik atas maupun bawah, menyebabkan pohon rentan tumbang.

"Dengan metode sadap quarre yakni pohon cukup disuntik dengan alat sadap modern, getap dapat mengalir deras. Pohon juga tetap utuh dan tidak ada coakan luka pisau," kata Bambang, saat melepas ekspor perdana gondorukem ke China di Mranggen, Demak.

Di Jateng, potensi gondorukem banyak dihasilkan di kawasan hutan pinus di Pekalongan Barat, Kedu Timur, Banyumas Timur dan Tegal bagian Barat. Produksi gondorukem per tahun mencapai 50.000 ton.