Kamis, 24 April 2014

News / Internasional

WHO Bahas Kontroversi Flu Burung

Kamis, 16 Februari 2012 | 08:28 WIB

Baca juga

ROTTERDAM, KOMPAS.com - Dipublikasi atau tidak? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) selama dua hari mendatang membahas penelitian influenza yang dilakukan Erasmus Medisch Centrum di Rotterdam, Belanda. Amerika berusaha mencegah publikasi hasil penelitian ilmiah ini. WHO mencari jalan keluarnya.

Kalangan politik panik ketika Ron Fouchier, virolog dan pemimpin penelitian dari Pusat Medis Erasmus, akhir tahun lalu mengumumkan penemuan virus laboratorium baru. Virus H5N1 yang dimodifikasi secara genetik ternyata bisa menular melalui udara di antara hewan fret, sejenis musang; ciri khas yang belum dimiliki virus H5N1 yang sekarang.

Penemuan ini sangat penting, karena reaksi hewan fret mirip reaksi pada manusia. Menurut Fouchier “ini bisa jadi salah satu virus paling berbahaya yang dibuat manusia”.

Hasil penelitian itu sebenarnya sudah siap dipublikasi majalah ilmiah Science. Tapi NSABB, dewan penasihat ilmu pengetahuan Amerika soal keamanan biologis, cemas bahwa organisasi-organisasi teror akan bisa menyalahgunakan pengetahuan itu untuk memproduksi senjata biologis yang memiliki kekuatan super.

Hasil penelitian akhirnya tidak jadi dipublikasi. Beberapa waktu kemudian dewan penasihat mencegah publikasi artikel serupa yang disusun kelompok peneliti Jepang-Amerika untuk majalah Nature. Kesimpulan mereka sama seperti tim peneliti Belanda.

Flu Spanyol

Jarang sekali dewan penasihat Amerika mengambil tindakan sedrastis itu. Sebelumnya, dewan berusaha mencegah publikasi artikel untuk Nature tentang rekonstruki virus yang pada tahun 1918 menyebabkan flu Spanyol. Flu Spanyol menelan lebih dari 50 juta jiwa di seluruh dunia.

Walaupun organisasi anti teror keberatan, artikel tersebut toh diterbitkan.

Setelah kontroversi seputar penelitian Belanda, maka diputuskan untuk memberlakukan "waktu tenang" selama 60 hari, mulai pertengahan Januari silam. Waktu tenang itu harus memberi peluang untuk mengadakan debat internasional antara ilmuwan, media, politisi dan pakar etika.

Topik yang dibahas bukan hanya tentang artikel yang ditolak dipublikasi, namun juga tentang perlunya melakukan penelitian influenza yang bisa saja sangat berbahaya. Juga sidang khusus WHO merupakan bagian waktu tenang itu.

Sejauh diketahui, 22 orang akan menghadiri pertemuan di markas besar WHO di Jenewa, Swiss. Di antaranya terdapat wakil beberapa laboratorium Asia yang menyuplai virus, peneliti-peneliti yang terlibat penelitian dan redaktur majalah Nature dan Science.

Mereka antara lain membahas perlu tidaknya publikasi ilmiah dan dalam bentuk apa.

Versi yang disesuaikan

Bisa jadi dua majalah itu akan terbit dalam versi yang disesuaikan tanpa memuat metode penelitian. Bagi Ron Foucher, itu jelas akan dipublikasikan. Kemungkinan seorang teroris bisa menciptakan virus seperti itu sendirian, menurut pemimpin penyelidikan di Rotterdam tersebut, kecil.

Tetapi rezim-rezim diktator yang memiliki fasilitas dan para peneliti yang baik tetap bisa melakukan hal itu. Yang sangat penting bagi para peneliti flu yaitu mengenali mutasi secepatnya.

Berdasarkan diskusi ternyata para ilmuwan tidak memiliki sistem untuk bertukar informasi sensitif. Begitu disebarkan lewat email atau semacam intranet, data-data tersebut bisa diakses umum sama seperti sudah dipublikasikan resmi.

Masalah ini kini memang sedang dipikirkan, tapi hanya bisa berhasil kalau platform seperti itu diakui secara internasional.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: