Rabu, 16 April 2014

News / Regional

Ibu Melahirkan Anak Berkaki Duyung

Kamis, 20 Oktober 2011 | 09:25 WIB

Baca juga

MAUMERE, KOMPAS.com - Maria Elizabeth warga RT 06 Kampung Garam Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (18/10/2011) melahirkan seorang anak yang kakinya mirip duyung. Bayi yang diberi nama Maria Oktaviani itu meninggal pada sore harinya sekitar pukul 17.00 Wita.

Maria menduga, kaki anaknya yang mirip duyung terkait dengan mimpi yang pernah ia alami beberapa saat sebelumnya. Mimpi ikan duyung hadir saat usia kandungannya genap tiga bulan. Dalam mimpi itu ikan duyung menjanjikan bahwa kandungan Maria akan membawa rejeki berlimpah bagi keluarganya.

Namun janji itu bukan tanpa syarat. Maria harus menamai anak itu Puteri Duyung. Kedua, sesaat setelah dilahirkan ia harus menyimpannya di dalam bak. Dan terakhir, tidak menceritakan kepada siapa pun tentang perjanjian itu.

Jika hal itu dilanggar, kata Maria di rumah duka di Kampung Garam, Rabu (19/10/2011) kemarin, maka salah satu di antara anggota keluarga akan menjadi korban. Masih dalam mimpi, permintaan ikan duyung untuk menamai anak dalam rahimnya itu Puteri Duyung ditolak mentah-mentah oleh Maria.

“Kami ribut di pantai. Dia minta saya menamai anak saya Puteri Duyung. Tapi saya bilang pada dia. Saya tidak mau, kami manusia dan kamu ikan. Tapi dia menjawab, kami juga manusia, jangan takut,” demikian Maria mengulangi pernyataan ikan duyung dalam mimpinya.

Maria mengakui, telah menceritakan mimpi itu kepada suaminya, karena takut. Selain itu, ia pun telah menyiapkan nama bagi anaknya sejak sebelum ia lahir, “Maria Oktaviani” jika perempuan, dan "Mario Oktaviano" jika laki-laki. 

Maria menuturkan, beberapa kali ikan duyung itu meyakinkan dirinya untuk tidak takut. Karena anak dalam rahimnya itu akan membawa rejeki besar untuk keluarganya. Maria tidak menceritakan rejeki apa yang dijanjikan dalam mimpinya itu.

Maria menuturkan hal itu dengan lancar. Namun ibu yang sehari-hari menawarkan jasa cuci pakaian di rumah-rumah penduduk di Kota Maumere ini terlihat tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.


Editor : Glori K. Wadrianto
Sumber: