Rabu, 3 September 2014

News /

PERKEBUNAN

OKU Timur Tolak Karet Dikelola Investor Swasta

Sabtu, 15 Oktober 2011 | 02:42 WIB

Martapura, Kompas - Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur menolak izin pembukaan kebun karet bagi swasta. Peluang sebesar-besarnya justru diberikan kepada rakyat sehingga mendorong perluasan kebun karet baru seluas 67.000 hektar dalam lima tahun terakhir.

Sejumlah pengusaha mengajukan investasi kebun karet skala besar. Dari seluruh pengajuan, tak satu pun diberikan izin. ”Kami menolak pemberian izin perkebunan karet bagi swasta,” kata Bupati OKU Timur Herman, Jumat (14/10), di Martapura.

Kebijakan itu, lanjut Herman, bertujuan menumbuhkan usaha perkebunan karet rakyat. Selain itu, memanfaatkan lahan menganggur dengan membuka kebun karet. Untuk menarik minat mereka, diberikan bantuan bibit gratis 1,25 juta batang per tahun. Bantuan bibit gratis ini untuk penanaman seluas 2.500 hektar.

Menurut Herman, luas kebun karet    rakyat hanya 5.000 hektar pada tahun 2006, kini telah menjadi 72.000 hektar. Luas perkebunan karet di OKU Timur ditargetkan bertambah maksimal 5.000 hektar lagi. ”Perluasan tidak bisa lebih besar lagi, karena kebun yang telah ada sudah sangat luas,” katanya.

Meski kebun terus meluas, Herman mengaku belum ada industri pengolahan karet di wilayahnya. Hasil panen getah karet selama ini tidak dapat diolah langsung. Petani harus menjualnya ke pabrik-pabrik karet di sekitar Kota Palembang.

Sejumlah petani padi di Kecamatan Belitang mulai berminat untuk menanam karet. Tingginya minat menanam karet ini didorong oleh tingginya harga komoditas karet di pasar dunia.

”Beberapa petani di sekitar sini (Belitang) mulai tanam karet di lahan kering. Dulunya lahan itu hanya ditanami tanaman palawija seperti ubi kayu,” kata Saripah, warga Belitang. Alih fungsi lahan menjadi kebun karet juga terjadi pada areal persawahan.

Peralihan fungsi dari sawah menjadi kebun karet terjadi seiring kekeringan yang melanda daerah itu. ”Lahan yang ditanami karet bukan sawah produktif, tapi lahan kering di daerah lereng yang dulunya hanya ditanami padi setahun sekali,” kata Kepala Dinas Pertanian OKU Timur Tubagus Sunarseno. (IRE/ITA)


Editor :