Selasa, 25 November 2014

News / Regional

Dua Orang Gila Berkelahi, Polisi "Bingung"

Rabu, 13 Juli 2011 | 15:39 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Anda pernah menyaksikan perkelahian sesama wakil rakyat di Gedung DPR? Atau oknum polisi yang adu jotos dengan sesama polisi? Mungkin pemandangan itu bukan hal yang baru. Namun, bagaimana jika yang berkelahi adalah sesama orang yang mengalami gangguan jiwa dan bersaudara pula? Nah, ini pasti luar biasa. 

Perkelahian antarorang sakit jiwa itu terjadi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dua pria beradu jotos di kebun milik warga hingga salah satunya terkapar dan harus ditandu ke rumah sakit karena mengalami patah tulang. 

Adalah Badaru (38), pria yang sudah lama dikenal mengalami gangguan jiwa, tergeletak tak berdaya di kebun milik warga di Desa Mammi, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, sejak Selasa (12/7/2011) subuh hingga siang. Korban terkapar di kebun milik warga setelah sempat berduel dengan Abidin (40), saudaranya sendiri, yang juga sudah lama diketahui mengalami gangguan jiwa. Badaru terkapar di tengah kebun selama lebih dari delapan jam tanpa pertolongan warga. 

Korban diduga mengalami patah tulang di bagian punggung hingga kesulitan berdiri dan meninggalkan tempatnya. Meski keterangan Abidin yang juga stres berat ini tak bisa dipercaya, pelaku mengaku nekat menghajar adiknya dengan sebuah balok sepanjang 1 meter hingga terjatuh. Abidin mengaku malu dan marah lantaran adiknya ini kerap keliling kampung mengganggu dan melempari rumah warga. 

Anehnya, meski warga sekitar sudah lama tahu korban terkapar, tak ada warga yang berani mendekat. Alasannya, takut menolong korban karena tak ingin jadi sasaran Badaru dan Abidin yang sama-sama mengalami ganggguan jiwa. Bukan hanya warga yang dibukin repot, sejumlah polisi yang turun tangan di lokasi juga bingung dan tak tahu harus menangkap siapa. Pasalnya, kedua saudara ini dikenal sama-sama gila dan keterangannya tentu tak bisa menjadi alat bukti di muka hukum.

Polisi yang datang pun terpaksa hanya mengurusi evakuasi korban tanpa harus memburu Abidin sang pelaku. Selain karena Abidin tak meninggalkan lokasi usai membantai adiknya, polisi juga menilai percuma menangkap dan mengambil keterangan Abidin. 

Sejumlah warga yang semula takut, baru berani merapat di TKP setelah warga lain bersama polisi dan aparat desa setempat ramai-ramai mendatanginya. Abidin sempat membuka jurus di tengah kerumunan warga dan mempraktikkan tata cara pelaku menghantam adiknya hingga terkapar di tanah. Hal itu terjadi saat ia diinterogasi polisi yang tak tahu bahwa Abidin mengalami gangguan jiwa.

Meski dikenal gila, Abidin mengaku tidak tega jika harus membunuh adiknya. Menurut Abidin, ia hanya sekadar memberi pelajaran agar korban tak mengulangi perbuatannya yang telah memalukan keluarga. 

Kepala Dusun Mammi, Muhammad Tahir, membenarkan jika kedua saudara yang berseteru ini sama-sama menderita penyakit jiwa. Menurut Tahir, warga sempat bingung dan tak bisa berbuat apa-apa. "Kami bingung karena keduanya gila dan tidak tahu asal-usulnya. Kami juga tidak tahu di mana keluarganya," ujar Tahir. 

Badaru akhirnya dievakuasi warga ke perkampungan penduduk sekitar 1 kilometer dari lokasi kejadian. Karena puskesmas sudah tutup, korban kemudian dibawa polisi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Pemerintah desa setempat kini sedang bermusyawarah untuk membawa kedua saudara kandung itu ke rumah sakit jiwa untuk menjalani pengobatan.


Editor : Glori K. Wadrianto