Jumat, 28 November 2014

News / Regional

Bos Aliran Sesat "Garap" Puluhan Cewek

Jumat, 15 Januari 2010 | 09:30 WIB

CIREBON, KOMPAS.com — Polisi menggerebek markas ajaran Surga Eden di Cirebon karena diduga mempraktikkan sesuatu yang tak lazim. Kepada pengikut wanita, pemimpin yang diduga aliran sesat itu mewajibkan melayani kebutuhan biologis sang pemimpin, Imam Ahmad Tantowi (57).

Puluhan pengikut wanita diduga menjadi korban sang pemimpin. Alasannya, setiap pengikut wanita harus menyucikan diri agar bisa menjadi bidadari. Sementara itu, khusus pengikut yang akan menikah, terlebih dahulu harus menyerahkan tubuhnya kepada Ahmad. Tak ada data pasti berapa jumlah pengikut aliran tersebut, tetapi diperkirakan jumlahnya puluhan orang, sebagian besar adalah wanita.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Dade Achmad kepada wartawan di Mapolda Jabar mengatakan, penggerebekan dilakukan di Dusun Blok Pon, RT  04 RW 05 Desa Kamengkang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Kamis (14/1/2010). Dalam pemeriksaan, sang pemimpin, Ahmad, mengaku melakukan praktik tak lazim itu sebagai syarat 44 untuk mencapai kesucian.

"Saat disucikan, calon pengantin harus mengikuti kemauan pemimpinnya, seperti memijat hingga dipaksa berhubungan badan," ujar Dade.

Menurut Dade, Ahmad mengaku sebagai Tuhan. "Dia mengaku-aku sebagai Allah dan harus disembah oleh pengikutnya," lanjutnya.

Selain ada yang mengaku sebagai Allah, ujar Dade, ada pula pengawal sang pemimpin yang diangkat sebagai Jibril. Dia yang mengaku Jibril ini bernama Imam Junaedi (36). Istri sang pemimpin, Endang (33), turut diamankan di Mapolda Jabar. "Total yang diamankan sementara ini 13 orang," ucap Dade.

Petugas Polda Jabar, dibantu Polsek Sumber dan Polsek Mundu, tiba di lokasi pada Kamis pagi dan langsung menemui Ahmad yang berada di rumah. Setelah memberikan penjelasan, petugas pun langsung membawa Ahmad, istri, dua anak, dan pembantunya ke Mapolda Jabar di Bandung untuk dimintai keterangan.

Saat penangkapan, Ahmad terlihat pasrah, tidak melawan. Sementara itu, rumah tinggalnya yang berada tepat di depan Lapangan Kamengkang diberi garis polisi. Petugas Polsek Mundu pun berjaga-jaga untuk mengamankan rumah beserta isinya. Maklum, di rumah bercat putih-hijau itu terdapat sejumlah barang berharga dan benda-benda antik karena sang pemilik merupakan pencinta barang-barang antik dan mengoleksinya di rumah.

Penangkapan ini berawal dari laporan mantan anak buah Ahmad yang bernama Andi. Andi melaporkan bahwa mantan bosnya ini mengajarkan aliran sesat dan mengaku sebagai Tuhan yang berwujud di alam semesta. Kepada para pengikutnya, Ahmad pun mengaku sudah menciptakan surga beserta para bidadarinya di kawasan Cirebon.

"Menindaklanjuti laporan Andi, kepolisian membawa Ahmad ke Mapolda Jabar untuk dimintai keterangan. Apa benar dia mengajarkan aliran sesat atau tidak," ujar seorang petugas dari Polsek Mundu yang enggan menyebutkan identitasnya.

Penangkapan Ahmad cukup mengagetkan warga sekitar. Pasalnya, selama ini gerak-gerik Ahmad tidak mencurigakan, termasuk dugaan penyebaran aliran sesat.  Warga pun tidak menyangka bahwa Ahmad menyebarkan aliran sesat.

"Kami enggak tahu apa-apa. Pak Ahmad itu orangnya biasa-biasa saja, tidak ada yang patut dicurigai. Tapi, memang kami belum pernah tahu dalam rumahnya," papar salah seorang tetangga, Dulhari (50).

Dulhari mengaku, di mata dia dan para tetangga, Ahmad berprofesi sebagai pebisnis. Tak heran jika kerap banyak tamu, baik dari Cirebon maupun luar kota. "Tapi, kami tidak tahu persis apa yang dilakukan Pak Ahmad bersama para tamu tersebut. Kami belum pernah masuk ke rumahnya sih, baru tadi saja saat ada polisi," kata Dulhari.

Dalam keseharian, tutur Dulhari, Ahmad belum pernah melakukan tindakan yang mengganggu warga sekitar. Malah, ia belum pernah sekali pun mengajak para tetangga untuk menjadi pengikutnya. "Orang shalat saja berbaur dengan warga. Dia orangnya terbuka dan baik. Baiknya, ya, sering menyumbang setiap kali ada kegiatan seperti acara 17-an (peringatan Hari Kemerdekaan RI),"  kata Dulhari.

Rumah tinggal Ahmad terletak persis di depan Lapangan Kamengkang. Rumah tersebut diberi gapura dan papar tinggi. Di halaman rumah terdapat sejumlah tanaman, termasuk pohon belimbing yang ditanam persis di dekat gapura.

Sebagai pencinta dan kolektor barang antik, rumah tinggal Ahmad memang didesain cukup unik. Bagian depan rumah dipasangi banyak lukisan dan patung-patung binatang dari tanah liat. Sementara di dalam rumahnya ada banyak guci, batu giok, dan lukisan. Di dalam rumah diisi sekitar tujuh orang, termasuk para pembantu dan saudara-saudara Imam Ahmad.

Penangkapan Imam Ahmad Tantowi ini cukup mengundang perhatian banyak orang. Selain para wartawan, tetangga juga seolah tidak mau ketinggalan, ingin menyaksikan. Bahkan setelah penangkapan, rumah tersebut masih menjadi pusat perhatian para tetangga. Terlihat tetangga, masih berkumpul di depan rumah. (Warta Kota/tribun Jabar/tat)


Editor : Glo