Kamis, 27 November 2014

News / Regional

Durian Bawor, Inilah Montongnya Banyumas

Rabu, 6 Januari 2010 | 09:15 WIB

KOMPAS.com- Meski hujan mulai banyak turun, bukan berarti musim durian sudah berakhir. Di daerah lain boleh saja begitu, tetapi di Banyumas, Jawa Tengah, itu tak berlaku.

Setidaknya, itu bagi Sarno Ahmad Darsono, pemilik pondok durian di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas. "Jangan khawatir, musim durian belum berlalu," kata Sarno, Selasa (5/1/2010).

Ia bahkan menjamin bahwa sampai bulan Februari masih akan ada durian. "Sampai pertengahan Februari, masih ada durian," tambah Sarno yang membuka pondok durian tidak di pinggir jalan raya, tetapi di tengah kebunnya.

Setiap hari, katanya, selalu saja ada pengepul yang menyetorkan durian 2-5 kuintal ke pondoknya yang berada sekitar dua kilometer ke arah utara dari jalan utama jalur selatan Banyumas-Yogyakarta. Masuk saja dari Pasar Kemrajen.

Pondoknya tidak berada di pinggir jalan, melainkan berada di tengah kebun durian, sehingga untuk menjangkaunya perlu berjalan kaki lagi sejauh 50 meter. Pasokan durian untuk pondok duriannya itu tak pernah surut, karena Sarno bersama 25 petani durian di Desa Alasmalang mengembangkan durian Bhineka Bawor.

Durian jenis itu adalah hasil pemuliaan oleh Sarno sendiri. Dirintis sejak 1996, durian Bhineka Bawor merupakan hasil pembuahan dari metode penanaman okulasi pada pohon durian. Satu pohon durian utama seperti durian montong bisa memiliki okulasi dengan lebih dari 10 tunas pohon durian dari berbagai jenis.

Hasilnya tak tanggung-tanggung. Buah terbesar bisa mencapai bobot 12 kilogram. Hampir sebagian besar buahnya juga bersih dari busuk karena ditumpangi lalat buah.

Manis-manis pahit

Soal rasa, boleh saja dibandingkan dengan durian montong yang cukup dikenal berasal dari Thailand itu. Bahkan menurut salah seorang pengunjungnya, Kunnaji (52) dari Kebumen, rasa durian Bhineka Bawor lebih istimewa dari montong.

Dengan penampilan yang sama, ukuran besar dan daging buah berwarna kuning, durian Bhinneka Bawor memiliki rasa khas durian lokal di Indonesia: legit tetapi juga pahit sedikit karena adanya kandungan alkohol pada buah.

"Kalau montong kan hanya besar saja. Rasanya pun hanya manis begitu saja, tidak menggigit," katanya.

Sebagai durian yang cukup istimewa, baik dari segi ukuran maupun rasa, Sarno menjual durian ciptaannya seharga Rp 17.500 sampai Rp 20.000 per kilogram. Harga per buah, tinggal dikalikan saja dengan harga per kilogram. Khusus untuk buah yang berbobot lebih dari tujuh kilogram sampai 12 kilogram, Sarno mengatakan, hanya dijual dengan sistem lelang.

Satu buah durian dengan bobot tujuh kilogram misalnya, bisa dijual dengan harga Rp 200.000 melalui sistem lelang. Namun untuk melayani seluruh pelanggannya, Sarno juga menyediakan durian hasil pembuahan konvensional. Ukurannya pun jauh lebih kecil, sehingga hanya dijual per buah seharga Rp 15.000 sampai Rp 20.000.

Sejak Natal sampai sekarang, pondok duriannya tak sepi dari pengunjung. Dalam sehari bisa terjual sampai enam kuintal durian. "Sehari setelah Natal sampai Tahun Baru, malah saya jual sampai satu ton per hari," kata Sarno.

Menurut salah seorang petani yang ikut mengembangkan durian Bhineka Bawor, Teguh (26), pohon durian Bhineka Bawor tak memakan waktu lama untuk berbuah. Kurang dari tiga tahun, pohonnya sudah menghasilkan buah. Masa itu lebih singkat dibandingkan pohon durian yang ditanam secara konvensional, yang baru dapat menghasilkan buah setelah usia tanam delapan tahun.

Satu pohon juga bisa menghasilkan lebih dari 60 buah durian. Untuk memanennya pun tak sulit karena rata-rata tinggi pohon durian Bhineka Bawor hanya setinggi dua meter. "Memanennya tidak sulit. Mudah sekali karena pohonnya pendek," katanya.

Pengunjung yang ingin menghilangkan lekatnya rasa buah durian pada mulut bisa mencoba cara dengan meminum air putih yang dituangkan lebih dulu pada kolom kulit buah durian. Dipercaya, dengan cara seperti itu bisa mengurangi kuatnya rasa buah durian. Bisa juga dengan memakan buah manggis yang dipercaya sebagai penawar rasa durian yang begitu legit dan baunya yang lekat.

Di pondok durian Sarno, buah manggis itu ada yang dijual Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per ikat. Menurut Sarno, dalam dunia perbuahan pada alam tropis, manggis juga memiliki kedudukan sebagai ratunya buah tropis. Oleh karena itu, buah tersebut cocok disandingkan dengan rajanya buah tropis, durian...  (Madina Nusrat)


Editor : Abi